Anggota DPRD Gunungkidul Masuk Desil 5 DTSEN, Ini Penjelasannya
Anggota DPRD Gunungkidul Mega Nusantara Wati kaget masuk desil 5 DTSEN. Begini penjelasan soal desil dan cara mengajukan pembaruan data.
Ilustrasi siswa SDN Tepus 2 belajar sendiri di balai dusun./Istimewa.
Harianjogja.com, Gunungkidul – Dinas Pendidikan Gunungkidul memastikan program regrouping sekolah masih akan berlanjut. Kebijakan ini diambil untuk memaksimalkan proses belajar mengajar karena hingga sekarang banyak sekolah yang kekurangan murid.
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati mengatakan, masih mengkaji soal dengan program regrouping sekolah di Bumi Handayani. Menurut dia, penggabungan merupakan salah satu opsi dalam upaya memaksimalkan program pembelajaran di sekolah.
“Terakhir, kami menggabung siswa di SD Negeri Tepus 2 ke sekolah lain. Sekarang, kami masih melakukan evaluasi dan program regrouping akan terus dilakukan,” kata Nunuk, Senin (3/10/2022).
Meski demikian, dia belum bisa memastikan berapa jumlah SD di Gunungkidul yang akan digabung. Nunuk berdalih, data yang ada merupakan data lama. Sedangkan dari perkembangan sekolah terus berubah setiap tahunnya.
“Ada yang tambah jumlah siswanya saat tahun ajaran baru, tetapi ada yang turun. Jadi, kami lakukan inventarisasi ulang terkait dengan sekolah yang akan digabung,” katanya.
BACA JUGA: Hujan Deras Akibatkan Longsor di Sejumlah Titik di Gunungkidul
Disinggung soal polemik penggabungan di SD Negeri Tepus 2, Nunuk mengakui sudah selesai. Para siswa di sekolah tersebut sudah dipindahkan ke sekolah lain.
Adapun permasalahan akses tranportasi, menurut dia, juga sudah terselesaikan. Hal itu sudah terselesaikan dengan adanya transportasi antar jemput dari sekolah yang baru. “Sediakan mobil untuk menjemput anak-anak, saat berangkat maupun pulang sekolah,” katanya.
Kepala Bidang SD, Dinas Pendidkan Gunungkidul, Taufik Aminuddin mengatakan, sejak awal tahun sudah ada dua SD yang digabung. Yakni, SD Negeri Candirejo 2 di Kalurahan Candirejo, Semin dan SD Negeri Tepus 2 di Kalurahan Tepus, Tepus.
“Memang ada rencana menggabung sekolah lainnya. Tapi, masih kami kaji karena sekarang banyak sekolah yang kekurangan murid,” katanya.
Taufik mengungkapkan, pengabungan SD harus melalui kajian yang matang. Meski ada sekolah yang kekurangan murid, maka tak serta merta digabungkan karena ada beberapa syarat yang harus terpenuhi.
Sebagai contoh, di kawasan tersebut masih ada sekolah lainnya. Sedangkan dari jumlah siswa dalam kurun waktu tiga tahun kurang dari 60 anak sehingga berpotensi digabung. “Makanya terus mengkaji penggabungan ini,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggota DPRD Gunungkidul Mega Nusantara Wati kaget masuk desil 5 DTSEN. Begini penjelasan soal desil dan cara mengajukan pembaruan data.
Menteri LH Jumhur Hidayat menegaskan pasar karbon Indonesia harus berbasis aksi iklim nyata, bukti kredibel, dan tata kelola berintegritas.
DPRD DIY meminta SPPG penyebab keracunan MBG ditutup permanen. Sebanyak 14 SPPG di DIY kini mendapat sanksi suspend.
Wapres Gibran mendorong inovasi mahasiswa ITB terus dikembangkan agar berdampak lebih luas dan terhubung dengan kebutuhan industri.
Pakar Vulkanologi UGM Prof. Agung Harijoko menjelaskan enam gunung api aktif bersamaan merupakan fenomena alami dalam proses geologi.
Malone Lam, pemuda Singapura 22 tahun, mengaku bersalah dalam kasus pencurian kripto US$245 juta dan menjalani gaya hidup mewah.