Jelang Ramadan, Puluhan Orang Bersihkan Watu Gilang di Pandak

Jumali
Jumali Senin, 11 Maret 2024 14:37 WIB
Jelang Ramadan, Puluhan Orang Bersihkan Watu Gilang di Pandak

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih bersama puluhan Masyarakat Kauman, Gilangharjo, Pandak, Bantul menggelar tradisi membersihkan batu yang sempat digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa di Petilasan Gilanglipuro, Minggu (10/3/2024)./ Pemkab Bantul

Harianjogja.com, BANTUL—Puluhan Masyarakat Kauman, Gilangharjo, Pandak, Bantul menggelar tradisi membersihkan batu yang sempat digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa di Petilasan Gilanglipuro, Minggu (10/3/2024). Tradisi membersihkan batu itu digelar untuk menyambut bulan Ramadan.

Juru Kunci Petilasan Gilanglipuro, Untoro mengungkapkan kegiatan membersihkan Watu Gilang sebelum memasuki bulan Ramadan merupakan tradisi turun temurun. Tradisi tersebut mengikuti perintah dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Adapun rangkaian membersihkan Watu Gilang diawali dengan doa bersama yang dipimpin dirinya. Setelah itu, masyarakat batu tersebut dengan cara mengguyur menggunakan air sumur bergantian. Termasuk Bupati Bantul Abdul Halim Muslih yang hadir dalam acara tersebut.

“Diharapkan kotoran-kotoran di dalam (lokasi watu gilang) bisa bersih. Dan ini adalah tradisi masyarakat disini,” katanya.

Baca Juga

Para Diaspora Merasakan Jejak Nenek Moyang di Petilasan Watu Gilang

Kotagede Akan Ditata, Ini Konsepnya

Menelusuri Jejak Keislaman di Kraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman

Watu Gilang sendiri, tidak lepas dari keberadaan Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati). Danang, kata dia, saat itu mendapatkan wahyu Mataram Islam di Kauman, Gilangharjo. Setelah itu Danang diminta oleh Ki Ageng Pemanahan mengembara ke hutan Mentaok. Dan, saat gembara, Danang Sutawijaya menemukan sumber air di sebuah batu. “Lalu Danang Sutawijaya bertapa dan mendapatkan wahyunya,” papar Untoro.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih yang turut hadir dalam acara jamasan ini menuturkan dari penelusuran berbagai sumber sejarah, Bantul merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam.

Hal ini juga terbukti dengan banyaknya situs dan petilasan, serta upacara adat yang ada di Kabupaten Bantul. Menurutnya, sejarah peradaban tersebut disampaikan melalui petilasan-petilasan agar manusia tidak lupa dengan asal muasalnya.

“Upacara ini penting bagi kita, tidak hanya bagi masyarakat bantul, tetapi masyarakat Yogyakarta agar kita tidak melupakan sejarah asal muasal kita sendiri,” kata Bupati Halim.

Pemkab Bantul, lanjut Halim masyarakat Bantul berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan tradisi. “Termasuk pandangan-pandangan hidup yg merupakan peradaban adiluhung Mataram Yogyakarta,” ucap Bupati Halim.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online