Kotagede Akan Ditata, Ini Konsepnya

Suasana di kawasan Kotagede Jogja. - Harian Jogja/Nina Atmasari
05 Februari 2020 05:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :


Harianjogja.com, JOGJA- Untuk memperkuat karakter kawasan cagar budaya Kotagede, sejak 2019 lalu Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menata fasad kawasan itu. Penataan ini diharapkan mampu benar-benar memunculkan kembali wajah Kotagede yang memiliki sejarah panjang, bukan hanya untuk menghabiskan anggaran.

Dewan Pengarah Badan Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya (BPKCB) Kotagede, Achmad Chairris Zubair, menjelaskan penataan Kotagede dikonsep oleh BPKCB sejak berdirinya organisasi ini oleh SK Gubernur pada 2015 lalu. “Karena ketugasannya sudah selesai, sekarang diganti Pokjanis [Kelompok Kerja Teknis], itu yang akan melaksanakan konsep yang sudah dirancang BPKCB,” ujarnya, Selasa (4/2/2020).

Ia mengungkapkan penataan fasad sebenarnya telah dimulai pada pasca gempa 2006 lalu. Waktu itu, di Kotagede banyak bangunan yang rusak, maka dilakukanlah penataan fasad, khususnya pada kawasan di sebelah utara Pasar Kotagede. Sementara penataan kali ini adalah pada kawasan selatan pasar sampai dengan Watu Gilang.

Menurutnya, kawasan selatan pasar itu sangat strategis untuk ditata karena dulu di situ merupakan alun-alun, yang kini Alun-Alun digunakan sebagai nama kampung di selatan pasar itu. Tempat  itu menjadi permukiman sejak Sultan Agung meninggalkan Kotagede sebagai Ibu Kota untu pindah ke Kerto dan kemudian Pleret.

Alun-alun merupakan salah satu dari catur gatra tata kota Jawa, yang terdiri dari Kraton, masjid, alun-alun dan pasar. Kraton sebagai pusat pemerintahan, masjid sebagai pusat peribadatan, alun-alun sebagai pusat ruang public dan pasar sebagai pusat perekonomian. “Kalau sekarang fasadnya ditata saya setuju karena itu melewati gatra penting dalam sebuah tata kota,” ujarnya.

Ia mengungkapkan di kawasan selatan pasar, sebenarnya di bagian dalam permukiman masih banyak rumah dengan konsep Jawa-hindu yang merupakan karakter kawasan tu. Namun di sisi luar atau pinggir jalan, seiring perkembangan jaman dan kepentingan ekonomi masyarakat, beberapa wajah bangunan sudah berubah.

“Makanya penataan ini dibuat agar wajah karakter Jawa-hindu yang dimiliki kompleks masjid dan pemandian itu jangan sampai hilang. Di sisi timur jalan juga jangan sampai hilang karakternya, sebab di situ ada permukiman dengan karakter yang sangat khas seperti between two gates dan kampung Alun-Alun itu sendiri.” Katanya.

Kawasan Kotagede kata dia, sebenarnya memiliki tiga periode pembangunan yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Periode pertama adalah saat berdirinya Kerajaan Mataram dengan Karakter Jawa-Hindu, periode kedua abad 18 sampai awal abad 19 dengan karakter Jawa dan periode ketiga awal abad 20 dengan karakter indies.

Periode terakhir ini diterapkan pada bangunan sekitar barat pasar sampai Jembatan Tegalgendu. Pada masa itu, Kotagede sedang berada di puncak kejayaan ekonomi, maka banyak orang kaya yang membangun rumah dengan arsitektur Eropa. Kawasan utara pasar ini kata dia, merupakan pintu masuk Kotagede di samping dari barat.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pelestarian Warisan dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Pratiwi Yuliani, mengatakan pihalnya tahun ini akan melanjutkan penataan fasad Kotagede di depan Sarean Kotagede.

Sebelumnya di situ hanya digunakan untuk tempat parkir dan nongkrong. "Sekarang bagus, ada muralnya. Atas permintaan masyarakat nanti kami rapikan dengan memperkuat karakternya," ujarnya.

Penataan ini ia mencontohkan jalan dari Pasar Kotagede ke Watu Gilang yang karakter aslinya bertekuk-tekuk, semisal jika ada penghuni yang membangun garasi tidak permanen yang menutupi tekstur jalan, akan dirapikan supaya karakternya kelihatan.