Perketat Pengawasan Hewan Kurban, Gunungkidul Kerahkan 120 Petugas
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.
Ilustrasi sapi/Pixabay
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman terus berupaya mengendalikan kasus antraks yang terjadi Padukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan. Selain berupaya memberikan vaksinasi, untuk pencegahan juga sudah memberikan antibiotik terhadap ratusan ternak di lokasi temuan kasus.
Kepala Dinas Pertanian Pangan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan, kasus antraks ditemukan di Kalinongko Kidul. Kepastian ini setelah ada sembilan ekor ternak milik warga yang mati secara mendadak.
Selain itu, berdasarkan pengambilan sampel tanah di sekitar lokasi juga dinyatakan positif adanya antraks oleh tim dari Balai Besar Veteriner Wates. Pasca-adanya temuan kasus ini, pihaknya langsung mengambil tindakan pencegahan.
Langkah pertama menyiapkan program vaksinasi ternak. Adapun pelaksanaannya masih dikoordinasikan dengan Pemerintah DIY dan Kementerian Pertanian.
“Ada program vaksinasi ternak di area kasus temuan antraks,” kata Suparmono kepada wartawan, Jumat (15/3/2024).
Selain program vaksinasi juga ada upaya pencegahan adanya ternak yang mati mendadak. Antisipasi ini dilakukan dengan memberikan anti biotik terhadap ternak warga di lingkungan yang terpapar antraks.
Suparmono mengakui hingga sekarang sudah ada 143 ekor sapi dan 224 ekor kambing. “Pengobatan dan pemberian vitamin ini sebagai upaya mencegah adanya ternak yang mati serta menekan laju penularan,” katanya.
BACA JUGA: Kasus Antraks, Bupati Sleman Minta Segera Dilakukan Vaksinasi Ternak
Dia menambahkan, untuk mengetahui seberapa jauh area paparan, BB Vet kembali mengambil sampel tanah di sekitar lokasi temuan kasus. Hingga sekarang, pihaknya masih menunggu hasil pengujian sampel baru tersebut.
“Upaya pencegahan juga dilakukan dengan memberikan sosialisasi kepada Masyarakat terkait dengan Kesehatan ternak. Salah satunya melaporkan pada saat adanya ternak yang sakit secara mendadak,” katanya.
Diketahui kasus antraks ini muncul mulai 2 Februari 2024. Sala satu ternak milik Wagiman di Kalinongko Kidul mati secara mendadak. Hingga 24 Februari total ada enam ekor kambing dan seekor sapi yang dimiliki mati.
Adapun dua kambing lainnya merupakan milik Warno Miharjo. Dukuh Kalinongko Kidul, Marjoko mengatakan, beberapa ternak yang sakit ini, pada saat sekarat disembelih kemudian dagingnya dibagikan ke warga. Tradisi brandu inilah yang menjadi penyebab munculnya kasus antraks di wilayahnya.
“Tidak hanya warga di Kalinongko Kidul, tapi warga Kayoman di Kalurahan Serut, Gedangsari yang saling berdekatan juga ikut mengkonsumsi daging hasil brandu,” katanya.
Menurut dia, sudah ada upaya penanganan untuk pencegahan. Warga yang bergejala seperti mual-mual atau diare sudah diberikan pengobatan. “Saat kasus dugaan muncul langsung ada penangan dari Pemkab Sleman, Gunungkidul dan Pemerintah DIY,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.
Kementerian HAM mendukung potongan aplikator ojol maksimal 8 persen demi perlindungan pekerja digital dan keadilan ekonomi platform.
Selamat pagi pembaca setia Harianjogja.com. Semoga aktivitas Anda hari ini berjalan lancar dan penuh energi positif. Dari tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat.
Permintaan pisau kurban dan kapak sembelih di Kulonprogo melonjak hingga 100 persen menjelang Iduladha 2026.
9 WNI peserta flotilla Gaza ditangkap Israel. Kemlu RI bergerak cepat menempuh jalur diplomatik dan perlindungan kekonsuleran.
BPKAD Kota Jogja mengimbau warga membayar pajak daerah lewat virtual account agar lebih aman dan terhindar dari modus penipuan.