514 Taruna Akmil Ikuti Kirab Perpisahan di Magelang
Kirab perpisahan 514 taruna Akmil di Magelang berlangsung meriah. Tradisi ini jadi simbol kedekatan taruna dan masyarakat.
Cawapres Mahfud MD saat menyampaikan visi misi dan program kerja dalam Debat Calon Wakil Presiden Pemilu Tahun 2024 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Gelora, Tanah Abang, Jumat (22/12/2023)./Tangkapan Layar KPU RI
Harianjogja.com, JOGJA—Calon wakil presiden (Cawapres) 03 Mahfud MD ikut mengomentari polemik dihapusnya Pramuka sebagai ekstra kulikuler (eskul) wajib oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nadiem Makarim. Mahfud pun mengirim surat online agar Nadiem mengubah keputusannya.
"Mendikbud-Ristek Pak Nadiem Makarim Yth. Mhn dipertimbangkan agar Pramuka tetap diberi tempat penting di sekolah kita. Jadikan Pramuka sbg Ekskul wajib," tulis Mahfud dalam akun X (Twitter)nya @mohmahfudmd, Kamis (4/4/2024).
BACA JUGA: Dukung Kebijakan Pramuka Tak Jadi Ekskul Wajib, Begini Penjelasan FSGI
Mahfud bahkan bercerita sejak kecil ia sudah mengikuti Pramuka. Bahkan saat menjabat sebagai Menko Polhukam di Kabinet Indonesia Maju mengusulkan agar pemerintah mempekuat posisi dan keberadaan organisasi Pramuka.
"Sy alumni Pramuka Gudep [gugus depan] 449 Yogyakarta. Saat di Polhukam saya malah mengusulkan agar Pramuka dikuatkan posisinya dan dinaikkan aggarannya," tegas Mahfud.
"Filosofi pendidikan kita mencerdaskan kehidupan yg mencakup "otak" dan "watak", intelektualitas dan moralitas, skill dan kelembutan hati Di Pramuka anak-anak mendapatkan persahabatan, cinta sesama, cinta alam, cinta tanah air, dan lain-lain yang manusiawi dan Indonesiawi. Tolong, Pak," tambah Mahfud.
Ungkapan Mahfud tersebut pun menuai dukungan dari sejumlah pihak. Mereka meminta agar Mahfud tetap mendesak Nadiem untuk mengubah kembali kebijakannya itu.
"Menteri nadiem mungkin ndak pernah tau nikmatnya pramuka dan hikmah dari pramuka untuk kehidupan bersama alam dan lingkungan, krn hidupnya sudah enak dan lingkungannya serba computer, makanya pola pikirnya sesuatu yg dianggap berat dihilangkan, pdhl disitu kita dilatih utk hidup," tulis pemilik akun @terapiCakep.
"Kasih faham mendikbud tolong pak, kalo ga' nnti mendikbud ku ganti sm cinta laura saja," akun @atsarisursula ikut mendukung pendapat Mahfud.
"Sebagai mantan PRAMUKA SIAGA sy kecewa sekali ekskul pramuka diutak utik untuk hal yg gak jelas tujuannya tetap diwajibkan ekskul disekolah tapi siswa tidak wajib ikut kegiatan pramuka ini membingungkan masyarakat," tulis pemilik akun lainnya @Ex_TKI.
Meski begitu, tidak sedikit juga yang justru mendukung kebijakan Nadiem. "Loh pak [Mahfud], kan gak semua anak suka pramuka apalagi kalo pembinanya jahat suka bentak bentak, smpe main fisik. Gak semua anak kuat fisiknya buat susur sungai, dll. Udah bagus itu pramuka bagi yang mau mau aja ," kata pemilik akun @calicoocat.
Pemilik akun @arverdomh mengaku tidak setuju dengan pendapat Mahfud. "Izin prof, saya kurang sependapat. Saya alumni Pramuka juga dulu, pengurus dewan ambalan, hingga menyandang TKU Laksana, di saat penerapan awal-awal Pramuka wajib ini. Dalam Pasal 20 UU GP dijelaskan jika Pramuka bersifat sukarela," katanya.
"Jika diwajibkan, yang terjadi adalah teman-teman terpaksa dalam mengikuti kegiatan pramuka, apalagi yang memotong hari libur.
Sehingga bagi saya pribadi, hal ini menghilangkan esensi dari Pramuka itu sendiri sebagai wadah kaum muda yang suka berkarya," katanya.
"Di satu sisi, menurut saya yang lebih penting adalah 'pembaharuan' Pramuka secara delivery dan bentuk kegiatan di tingkat gudep. Karena kita tidak bisa menutup mata juga, kegiatan Pramuka yang harusnya fun, jadinya malah banyak dimanfaatkan oleh oknum senior untuk 'balas dendam'," ujarnya.
"Belum lagi soal kompetensi pembina, jika kita lihat di lapangan, banyak sekali lho pembina yang KMD saja belum. Pemerintah perlu memikirkan ini.
Keberadaan ekskul Pramuka memang wajib dipertahankan. Tapi mewajibkan, kiranya kurang pas. Demikian prof, maaf jika kurang berkenan," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kirab perpisahan 514 taruna Akmil di Magelang berlangsung meriah. Tradisi ini jadi simbol kedekatan taruna dan masyarakat.
Petar Sucic mencetak gol spektakuler yang membawa Kroasia unggul 1-0 atas Ghana. Inggris masih bermain imbang tanpa gol melawan Panama di Grup L Piala Dunia 202
Gempa DIY membuat perjalanan kereta sempat dihentikan sementara. KAI Daop 6 memastikan seluruh operasional kereta kini kembali normal dan aman.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.