Depo Sampah Kembali Penuh, Ini yang Dilakukan Pemkot Jogja

Alfi Annisa Karin
Alfi Annisa Karin Selasa, 14 Mei 2024 15:57 WIB
Depo Sampah Kembali Penuh, Ini yang Dilakukan Pemkot Jogja

Depo Sampah Mandala Krida ditutup, Minggu (21/4/2024) - Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin

Harianjogja.com, UMBULHARJO – Desentralisasi pengolahan sampah di Kota Jogja terhitung baru berjalan dua pekan. Namun, sejumlah titik depo sampah sudah tampak penuh.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Jogja Kadri Renggono menuturkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah menempuh sejumlah upaya untuk memastikan sampah-sampah di depo ataupun di tepi jalan terolah.

Misalnya, DLH Kota Jogja sejauh ini telah melakukan manajemen pengangkutan sampah di depo. Strategi yang diterapkan seperti halnya permainan dakon. Jika satu depo penuh, maka sampah dari depo akan diarahkan untuk ditempatkan di depo yang tidak terlalu padat.

BACA JUGA: TPS Sementara Gadingsari Segera Penuh, DLH Bantul Masih Kesulitan Cari Lokasi TPSS Lain

“Manajemen depo kapan tutup, depo mana yang bisa dioptimalkan angkutannya harus sedemikian rupa. Mana yang harus disisir setiap hari menggunakan armada yang. Itu yang sudah dilakukan oleh DLH, jadi manajemen perbaikan angkutan depo itu kita optimalkan,” jelasnya saat ditemui di TPS 3R Kranon, Selasa (14/5/2024).

Di sisi lain, Kadri menyebut 3 lokasi TPS 3R yang kini disiapkan oleh Pemkot Jogja tak mampu menampung seluruh produksi sampah di Kota Jogja. Untuk itu, perlu peran dari berbagai pihak untuk turut serta menanggulangi masalah persampahan.

Dia mengatakan pemerintah sejauh ini telah memberi dukungan untuk menggerakkan upaya pengolahan sampah di tingkat masyarakat. Misalnya dengan pemberian dana keistimewan di tiap-tiap kelurahan sebesar Rp 100 juta.

“Sementara pengolahan sampah di sekolah dan komunitas itu juga terus berjalan,” imbuhnya.

Kadri mengatakan, Pemkot Jogja telah merencanakan pengadaan insinerator atau alat pembakar sampah. Namun, dia tak menjelaskan secara detail bagaimana implementasi dari perencanaan itu. Kadri hanya mengatakan DLH kini tengah melakukan perencanaan, termasuk pencarian mesin dengan hasil polutan yang sesuai dengan standar dan tak merusak kesehatan warga.

“Kita rencanakan, tapi dari sisi teknologi polutannya tidak sesuai dengan ambang batas, kemudian juga tidak mengganggu aktivitas masyarakat karena Jogja sangat sulit mencari lahan. Lalu kita akan cari pilihan yang terbaik untuk lahan karena pasti insinerator juga harus ada yang bawa. Perencanaan sudah, tinggal eksekusi saja. Moga-moga nanti di perubahan, kalau bisa kita usulkan,” ungkapnya.

Selain mengandalkan TPS 3R, Kabid Pengelolaan Persampahan DLH Kota Jogja Ahmad Haryoko menjelaskan pihaknya turut menggandeng pihak swasta. Terakhir, PT SBI yang bertempat di Cilacap digandeng sebagai off taker produk RDF hasil pengolahan sampah di TPS 3R Nitikan. Lalu, pihaknya juga turut bekerja sama dengan pihak swasta dalam hal pemusnahan sampah.

“Kami juga mengupayakan untuk bekerja sama dengan pihak swasta dalam hal pemusnahan sampah, jadi selain yang diolah di Kranon, Nitikan, dan Karangmiri. Kerja sama dengan swasta ini sudah kita lakukan sejak kemarin April meskipun tonasenya baru 30 ton perhari di kontrak tahap pertama ini. Dan nantinya akan kita tingkatkan lagi kalau memang pihak swasta sudah siap untuk mengolah lebih banyak,” tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online