DPRD Sleman Minta 114.000 UMKM Dipetakan Lebih Rinci
DPRD Sleman menilai pemetaan sekitar 114.000 UMKM belum optimal. Pemerintah diminta menyesuaikan pemberdayaan dengan persoalan tiap pelaku usaha.
Ilustrasi Pilkada -Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ketua DPC Partai Gerindra Gunungkidul, Purwono menyampaikan bahwa pihaknya telah sepakan berkoalisi dengan Partai Nasdem, PKS, dan PKB.
“Meski belum secara formal, Gerindra sudah berkoalisi dengan Nasdem dan PKS. Tambah satu lagi, PKB,” kata Purwono dihubungi, Senin (3/6/2024).
Kabar koalisi ini dibenarkan Ketua DPD Partai PKS Gunungkidul, Tri Iwan Isbumaryani. Hanya dia belum dapat secara tegas mengatakan koalisi tersebut. “Selama belum turun SK DPP, saya belum berani bilang resmi,” kata Iwan.
Sebelumnya, Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sutrisna Wibawa lebih dahulu mengabarkan koalisi antara Nasdem dengan PKS dan Gerindra.
BACA JUGA: Lima Parpol Sepakat Bentuk Koalisi Sleman Bersatu
Hanya Ketua DPC PKB Gunungkidul, Sutiyo yang menampik klaim koalisi dengan Partai Gerindra. “Memang sudah berkomunikasi dengan Gerindra, tapi belum ada kesepakatan koalisi. Partai kan bisa saja klaim-klaim begitu,” kata Sutiyo.
Lebih jauh, dia secara tegas mengatakan DPC PKB telah sepakat berkoalisi dengan DPD Partai Golkar. Menurut Ketua DPD Partai Golkar, Heri Susanto, selain dengan DPC PKB, belum ada parpol lain yang gabung dalam koalisi. “Belum ada tambahan koalisi selain dengan PKB,” kata Heri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Sleman menilai pemetaan sekitar 114.000 UMKM belum optimal. Pemerintah diminta menyesuaikan pemberdayaan dengan persoalan tiap pelaku usaha.
Penjualan mobil listrik RI naik 99,4% hingga Agustus 2026. Simak 20 model terlaris, Jaecoo J5 memimpin di atas BYD Atto 1.
Harga emas Pegadaian hari ini, Rabu 16 September 2026, untuk Antam, UBS dan Galeri 24 lengkap dengan harga buyback.
DPRD Kulonprogo mendorong Pemkab memaksimalkan potensi jasa katering untuk maskapai dan karyawan YIA guna meningkatkan pendapatan daerah.
Pakistan menjadi negara dengan kualitas udara terburuk 2025. PM2.5 mencapai 13,5 kali pedoman WHO, sementara Indonesia membaik.
Bagnaia mengakui levelnya kini di posisi 9-10 setelah gagal finis di San Marino. Ia menyoroti masalah pengereman dan menikung.