Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi sampah. Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—TPS3R Pasar Giwangan saat ini mulai menggunakan mesin segergasi untuk memaksimalkan pemilahan sampah. Pengelola juga bekerja sama dengan daurulang.id untuk mengelola sampah organik dan residu.
Ketua Tim Kerja Kebersihan dan Keamanan Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Jogja, Kelik Novidwyanto menjelaskan mesin segregasi ini baru beroperasi Senin (10/6/2024), menggantikan mesin pencacah yang hanya bisa mencacah sampah organik.
Cara kerja mesin segregasi ini yakni dengan memasukkan sampah residu, sampah lama yang menumpuk atau sampah biasa yang sudah dipilah secara kasar sebelumnya, kemudian mesin akan memisahkan secara otomatis bagian sampah organik dan anorganik atau residu.
“Yang organik langsung dicacah menjadi bubur di sebelah kanan mesin, sedangkan sampah anorganik dan residu masuk ke kiri, di-rotary spinner. Di situ diayak lagi supaya serpihan organik jatuh ke bawah,” ujarnya, Selasa (11/6/2024).
Pemilahan kasar sebelum sampah dimasukkan ke mesin segregasi bertujuan untuk menghindarkan benda-benda yang bisa menghambat kerja mesin, seperti besi, kain, rafia dan sebagainya. Maka diperlukan idealnya empat orang untuk mengoperasikan alat ini.
Kemudian output dari pemilahan mesin segregasi ini dikelola lewat kerja sama dengan daurulang.id, yang menerima sampah residu dan bubur sampah organik. “Mereka menghasilkan holzewig atau kayu abadi. Jadi semacam kayu tapi bahannya dari sampah plastik dan anorganik, bisa styrofoam, pampers dan sebagainya,” katanya.
Sedangkan bubur sampah organik dikirim juga ke daurulang.id untuk pakan cacing dan maggot. Di samping itu, di Pasar Giwangan sendiri juga mengelola sampah organik dengan sistem biopori yang saat ini ada sebanyak 16 titik.
BACA JUGA: Hasilkan 12 Ton Sampah Pasar per Hari, Begini Upaya Pemkot Jogja
Dalam operasional yang belum maksimal karena keterbatasan petugas, saat ini TPS3R ini baru mengelola sampah sekitar 1,5-2 ton. Jika dimaksimalkan pengoperasian mesin oleh empat orang, diperkirakan mampu mengelola sampah satu rate atau sekitar 5 ton dalam tujuh jam.
Adapun produksi sampah Pasar Giwangan fluktuatif, tergantung musim. Jika sedang musim buah, setiap hari bisa dihasilkan sampah organik sekitar 4-6 ton. Jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara pasar-pasar lain di Kota Jogja sekitar 20 pasar, dengan total sampah yang dihasilkan 12-16 ton.
Pasar Giwangan merupakan satu-satunya pasar di Kota Jogja yang memiliki TPS3R dan mesin segregasi, karena lahannya yang cukup luas. Maka TPS3R Giwangan pun juga menampung sampah-sampah dari pasar lain di Kota Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Penjualan Daihatsu kuartal III 2026 mencapai 37.167 unit, tumbuh 10%. Gran Max Series menjadi model dengan penjualan tertinggi.
Malioboro Run 4 Oktober berpotensi memicu kepadatan lalu lintas. KAI mengimbau penumpang Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan datang lebih awal.
Kebakaran TPA Jatibarang mulai terkendali, tetapi 20% titik api masih tersisa. Petugas terus mendinginkan tumpukan sampah hingga kedalaman 10 meter.
Kemkomdigi menilai notifikasi masa aktif belum cukup melindungi nilai ekonomi sisa kuota internet pelanggan sesuai amanat putusan MK.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 4 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak waktu berangkat, rute, stasiun, dan tarif Rp8.000.