WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Dinas Kesehatan Kota Jogja menggelar sosialisasi KSSJ di kelurahan, beberapa waktu lalu./ist Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kesehatan Kota Jogja mencatat adanya peningkatan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah Kota Jogja pada 2024. Pemkot Jogja pun mengintensifkan kembali Kelurahan Siaga Sehat Jiwa (KSSJ).
Dari catatan Dinas Kesehatan Kota Jogja, jumlah ODGJ pada 2023 sebanyak 1239 jiwa, termasuk warga luar wilayah. Kemudian pada 2024, sampai dengan bulan Mei saja sudah ada sebanyak 1101 jiwa, termasuk warga luar wilayah.
BACA JUGA: Viral ODGJ di Jalan Taman Siswa Jogja Meronta Saat Diamankan Satpol PP
Kepala Seksi Promosi Kesehatan Masyarakat Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota jogja, Arumi Wulansari, mengatakan untuk merespon hal ini, perlu digiatkan kembali Kelurahan Siaga Sehat Jiwa (KSSJ) di setiap wilayah.
“Selama ini terbentuknya tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat yang aktif hanya di Kemantren. Untuk di Kelurahan belum ada. Dengan jumlah ODGJ yang saat ini mengalami peningkatan, maka perlu menggiatkan kembali KSSJ ini,” ujarnya, Selasa (25/6/2024).
Pihaknya mengatakan, dalam penanganan ODGJ di Kota Jogja, Kelurahan bekerjasama dengan tim dari sektor lainnya seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, LPMK, PKK, Karang Taruna dan sebagainya. Pihaknya juga melakukan sosialisasi terkait KSSJ di 45 Kelurahan yang sampai saat ini sudah berjalan di 19 Kelurahan.
Menurutnya, peran penting dalam menangani ODGJ yakni dari keluarga pasien. Dimana masih ditemukan banyak keluarga yang malu untuk mengakui dan melaporkan keluarga yang menderita ODGJ ke puskesmas atau posyandu yang di wilayahnya.
“Pengaruh keluarga pasien ini sangat penting. Jangan sampai kurangnya perhatian lebih dari keluarga memperburuk kondisi pasien dengan stigma malu memiliki salah satu keluarga yang menderita ODGJ. Kita tekankan, jangan ada stigma di masyarakat,” paparnya.
Menurutnya, kesehatan mental berpotensi besar diderita oleh anak-anak dan remaja. Dengan berbagai macam faktor mulai dari putus cinta, tidak sesuai dengan mimpi yang dikejar, keseringan menggunakan gadget, masalah keluarga atau broken home.
ODGJ Lansia
Lansia juga memiliki potensi yang tinggi, terutama yang memiliki riwayat sakit kronis yang menyebabkan stres berkepanjangan. “Maka perlu adanya deteksi dini dengan skrining kesehatan jiwa yang bisa dilakukan secara mandiri, ke posyandu maupun puskesmas juga ada. Dengan ini, gangguan jiwa dapat ditekan,” ujarnya.
Ia berpesan, bagi warga Kota Jogja yang ingin membantu ODGJ di wilayahnya, masyarakat bisa melaporkan melalui RT, RW kemudian melaporkan ke Kelurahan. Sehingga penderita ODGJ dapat segera tertangani dengan baik.
“Jika tidak memungkinkan ke puskesmas, maka tim puskesmas akan menyambangi rumah pasien. Dengan upaya yang dilakukan melalui sosialisasi, harapannya masyarakat mau menerima dan ikutserta dalam pelaksanaan perkembangan KSSJ di wilayah,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Film dokumenter Jalan Pulih terkurasi di Djourno Fest 2026. Karya ini mengangkat perjuangan perempuan dengan disabilitas psikososial dan makna pemulihan.
Dewan Pendidikan DIY menyoroti dugaan ketidaksetaraan fasilitas belajar siswa non muslim di SMA Negeri dan meminta seluruh sekolah memenuhi hak belajar setara.
Destry Damayanti ditunjuk sebagai Gubernur sementara BI. LHKPN mencatat total harta kekayaannya mencapai lebih dari Rp100,236 miliar.
Bareskrim Polri menangkap AKP Pardiman dan lima anggota Polres Tangsel terkait dugaan narkoba. Polri menegaskan tidak ada impunitas.
Rupiah ditutup melemah ke Rp18.009 per dolar AS setelah Perry Warjiyo mundur. Pasar menyoroti sentimen geopolitik dan risiko fiskal.