Cabai Rawit Jadi Primadona Hortikultura Sleman pada Semester I 2026
Cabai rawit mendominasi luas tanam hortikultura di Sleman pada semester I 2026 dengan harga petani mencapai Rp56.059,01 per kilogram.
Foto ilustrasi siswa SMA - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul menyampaikan ada baru ada dua sekolah menyandang predikat adiwiyata mandiri yaitu Sekolah Dasar (SD) Negeri Rejosari 3, Kapanewon Semin, dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Wonosari, Gunungkidul.
Kepala Disdik Gunungkidul, Nunuk Setyowati mengatakan total jumlah sekolah berpredikat adiwiyata ada 38 sekolah dengan rincian 22 sekolah jenjang SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan enam belas sekolah jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
BACA JUGA : Peringati Hari Lingkungan Hidup, Bantul Gelar Pembuatan Eco Enzyme Massal
Dari jenjang SD dan MI, ada empat sekolah berpredikat adiwiyata nasional, tujuh adiwiyata provinsi, sepuluh adiwiyata kabupaten, dan satu sekolah berpredikat adiwiyata mandiri.
Kemudian di jenjang SMP dan MTs, ada sepuluh sekolah berpredikat adiwiyata kabupaten, tiga adiwiyata provinsi, dan tiga adiwiyata nasional.
Kepala DLH Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono mengatakan jawatannya hanya menjadi fasilitator bagi sekolah yang ingin meraih predikat adiwiyata di setiap tingkatannya. Kata dia, sekolah berpredikat adiwiyata tergolong sedikit apabila melihat jumlah sekolah keseluruhan.
“Kami pengennya sekolah-sekolah di Gunungkidul bisa terlibat dalam gerakan sekolah berwawasan lingkungan,” kata Hary dihubungi, Kamis (4/7).
Hary menambahkan hakikat pengelolaan masyarakat harus menyasar kepada semua elemen masyarakat. Elemen ini terbentuk dari komunitas-komunitas salah satunya di dunia pendidikan.
Adiwiyata memiliki empat tingkatan yaitu tingkat kabupaten, tingkat provinsi, nasional dan mandiri. Jika sekolah berpredikat mandiri, sekokah tersebut harus dapat menjadi mentor bagi sekolah lain.
“Ada kebanggaan sekolah adiwiyata. Predikat ini diharapkan membangun karakter budaya anak dan warga sekolah dalam rangka mewujudkan pemahaman kaidah-kaidah lingkungan,” katanya.
Sekretaris Himpunan Pegiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) Gunungkidul, Iswardani Tri Harjanti mengatakan jumlah sekolah adiwiyata jenjang SMA/ sekolah menengah kejuruan (SMK) di Gunungkidul tidak banyak.
Menurut Harjanti, predikat ini bukan penyematan formalitas, namun sekolah perlu mengupayakan budaya peduli lingkungan dalam aktivitas di lingkungan sekolah.
BACA JUGA : Dikpora DIY Nilai Pengelolaan Sampah di Tingkat Sekolah Sudah Maksimal
“Ada pembiasaan-pembiasaan di lingkungan sekolah untuk sekolah berstatus adiwiyata. Variasi program kegiatan dan jumlahnya juga bergantung pada jenjang adiwiyata,” kata Harjanti.
Menurut catatan Disdik Gunungkidul, ada sepuluh sekolah jenjang SMA/SMK berstatus adiwiyata dengan rincian lima sekolah adiwiyata kabupaten, satu adiwiyata provinsi, tiga adiwiyata nasional, dan satu adiwiyata mandiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cabai rawit mendominasi luas tanam hortikultura di Sleman pada semester I 2026 dengan harga petani mencapai Rp56.059,01 per kilogram.
Perbaikan 256 RTLH di Gunungkidul ditargetkan selesai akhir Agustus 2026. Hingga akhir Juli, 101 rumah telah rampung dibangun.
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri nonblok di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
BI menyiapkan GPIPS untuk memperkuat pengendalian inflasi pangan dan menjaga stabilitas harga melalui penguatan produksi serta distribusi.
Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi di Banyumas ditargetkan dimulai Oktober 2026 dan mulai beroperasi pada tahun depan.
KPU Kulonprogo menyiapkan kurikulum demokrasi yang terintegrasi dalam mata pelajaran Pancasila atau PKN di sekolah dan madrasah.