UGM Bekali Petani Wonosari Cara Atasi Hama dan Penyakit Tanaman
UGM melatih petani di Wonosari, Gunungkidul, mengenali dan mengendalikan hama serta penyakit tanaman pangan dan hortikultura.
Ilustrasi Pilkada - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Proses pemutakhiran data pemilih (Pantarlih) untuk Pilkada Sleman masih terus berlangsung. Hingga saat ini, proses validasi data calon pemilih sudah mencapai 70% dari target yang harus diselesaikan sebanyak 854.654 jiwa.
Anggota KPU Sleman, Divisi Perencanaan Data dan Informasi, Arif Setiyawan mengatakan, proses pantarlih melibatkan sekitar 3.000 petugas. Adapun pencocokan dan penelitian data calon pemilih sudah berlangsung sejak 24 Juni hingga 25 Juli mendatang.
Dia menjelaskan, proses pantarlih mengacu pada Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4) dari Kementerian Dalam Negeri yang diserahkan ke KPU RI beberapa waktu lalu. Total daftar pemilih potensial di Sleman terdapat sebanyak 854.654 jiwa.
BACA JUGA: Bupati Bantul Setuju ASN Dibolehkan Hadiri Kampanye, Begini Penjelasannya
Jumlah ini terdiri dari calon pemilih laki-laki sebanyak 415.110 orang dan Perempuan ada 449.544 jiwa. “Tahapan pantarlih masih berlangsung sampai sekarang karena perkembangannya baru mencapai 70% dari target yang harus diteliti,” katanya, Kamis (11/7/2024).
Arif menjelaskan, masih ada waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikan verifikasi dan validasi data calon pemilih. Diharapkan petugas pantarlih memanfaatkan waktu tersisa guna menyelesaikan ketugasannya mencocokan data pemilih dengan mendantangi langsung ke rumah-rumah warga.
Meski berjalan dengan baik, ia mengakui ada beberapa kendala. Salah satunya berada di perumahan di wilayah perkotaan. Berdasarkan hasil koordinasi di internal PPS diketahui ada petugas yang kesulitan menemui warca yang masuk dalam DP4.
“Sulit ditemui karena mungkin aktivitas pekerjaan. Tapi, kami menekankan harus tetap dilakukan verifikasi data untuk memastikan hak warga terkait pemilihan tetap terpenuhi,” katanya.
Terkait dengan permasalahan ini, Arif mengaku sudah menginstruksikan ke petugas lapangan agar berkoordinasi dengan Ketua RT, RW maupun dukuh wilayah setempat. Diharapkan lewat pemangku wilayah ini bisa membantu sehingga warga bisa dilakukan coklit data pemilih.
“Masih ada waktu dan mudah-mudahan bisa terselesaikan semuanya,” katanya.
Ketua Bawaslu Sleman, Arjuna Al Ichsan Siregar mengatakan, meski jumlah personel terbatas, namun tetap berkomitmen untuk pengawasan dalam tahapan pantarlih. Selain itu, juga membuka posko pengaduan berkaitan dengan cloklit data pemilihan sehingga hak pilih warga tetap bisa terlindungi.
BACA JUGA: PDIP dan Golkar Diprediksi Berkoalisi di Pilkada 2024 Gunungkidul
Menurut Arjuna, untuk memaksimalkan pengawasan, setiap pengawas kalurahan diminta melakukan pengawasan melekat. Prosesnya dengan mengikuti verifikasi data oleh petugas pantarlih minimal di lima rumah calon pemilih tiap harinya.
Selain itu, juga melakukan pengambilan sampel sebanyak sepuluh rumah tiap harinya. Hasil dari pengawasan melekat dan uji petik kemudian dilaporkan secara berjenjang ke panwascam dan bawaslu kabupaten.
“Ini untuk menyiasati kekurangan personel pengawasan. Jadi, temuan-temuan di lapangan sebagai kajian agar pemutakhiran benar-benar berjalan sesuai dengan prosedur,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM melatih petani di Wonosari, Gunungkidul, mengenali dan mengendalikan hama serta penyakit tanaman pangan dan hortikultura.
Administrasi Risto Vidakovic belum rampung. Guntur Cahyo Utomo masih memimpin PSIM saat menjamu Dewa United di Stadion Sultan Agung.
Kapolri menegaskan penanganan kasus dugaan penyadapan ilegal dengan tiga personel Polri sebagai tersangka murni proses penegakan hukum.
KSAD Jenderal Tandyo Budi Revita memimpin pemakaman Kapten Nurhafiz di Semarang setelah gugur dalam kecelakaan heli MI-17 saat operasi karhutla.
Ekonomi DIY tumbuh 5,79% secara tahunan pada triwulan III 2026. Sektor akomodasi dan makan minum menjadi salah satu pendorong utama.
Petani di Saptosari, Gunungkidul, resah karena kawanan monyet ekor panjang merusak tanaman saat musim tanam baru dimulai.