Jogja Tuan Rumah Kongres HIMPSI 2026, Ini Agendanya
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
Aris, salah seorang petani di Kalurahan Tambakrejo, Tempel sedang memperlihatkan tanaman padi yang mulai mengering. Harian Jogja/David Kurniawan\r\n\r\n
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyatakan bakal meminta bantuan dari BNPB untuk mengatasi bencana kekeringan di wilayahnya.
Sejumlah wilayah dilaporkan telah meminta bantuan air bersih akibat bencana kekeringan yang berkepanjangan di sejumlah titik di DIY.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad mengatakan, pihaknya akan meminta BNPB untuk melakukan modifikasi cuaca di wilayah setempat agar terjadi hujan. "Kami akan minta bantuan BNPB untuk modifikasi cuaca dengan cara menebarkan garam di udara supaya terjadi hujan," katanya, Selasa (16/7/2024).
BACA JUGA: Antisipasi Kekeringan Lahan Pertanian, Pemerintah Galakkan Pompanisasi
Menurutnya, pelaksanaan modifikasi cuaca selama ini belum pernah dilakukan di wilayah ini. Sebab berbiaya mahal. Hanya saja pihaknya akan mempertimbangkan upaya itu jika musim kemarau terus berlanjut di DIY dalam beberapa waktu waktu depan.
"Penyaluran air bersih ke masyarakat yang kesulitan air juga akan kami lakukan. Kami juga minta dunia usaha, lembaga non pemerintah untuk membantu," katanya.
Noviar menambahkan, pihaknya sebenarnya sudah ditawarkan oleh BNPB untuk menetapkan siaga darurat kekeringan di wilayahnya. Hanya saja menurut dia siaga darurat bencana kekeringan hanya akan ditempuh jika minimal ada dua kabupaten kota yang telah menetapkan status serupa.
"Di BPBD DIY harus ada penetapan secara detailnya dari kabupaten, minimal dua kabupaten yang menerapkan siaga kekeringan baru nanti provinsi yang menetapkan siaga kekeringan," ujarnya.
Dengan begitu, pihaknya mengaku sampai sekarang masih melihat perkembangan kondisi cuaca ke depannya. Selain itu juga terus memantau tindakan yang dilakukan oleh kabupaten kota dalam mengatasi masalah kekeringan. Adapun wilayah yang akan menetapkan siaga kekeringan disinyalir Sleman dan Gunungkidul.
BACA JUGA: Siaga Bencana Kekeringan di Gunungkidul Ditetapkan hingga 31 Agustus 2024
"Sementara 5 titik di Gunungkidul yang sudah mengalami kekeringan. Sleman sisi utara sudah mulai kekeringan tapi masih belum signifikan, daerah Turi, Pakem, Cangkringan dan beberapa kalurahan di sana sudah mulai kekurangan stok air," jelasnya.
Noviar menyebutkan bahwa berdasarkan prediksi BMKG, Juli-Agustus dimungkinkan semua kabupaten kota berpotensi mengalami kekeringan sementara. "BMKG nanti akan memperbaharui terus informasinya. Yang pasti Juli-Agustus puncaknya kekeringan atau musim panas di jogja," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
Chery dan BYD mengkaji potensi kenaikan harga mobil di Indonesia akibat pelemahan rupiah dan tekanan biaya produksi.
Panduan membaca hasil TKA Kemendikdasmen agar peserta didik memahami makna skor dan kategori penilaian akademik.
Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul kembali menggelar kegiatan Internalisasi Kesejarahan melalui Pembinaan Komunitas.
Harga LPG non-subsidi di Kulonprogo naik sekitar Rp10 ribu per tabung, penjualan mulai menurun di sejumlah pangkalan.
Leo/Daniel naik peringkat BWF usai juara Thailand Open 2026, diikuti perubahan ranking atlet bulu tangkis Indonesia lainnya.