Nelayan Gunungkidul Dilatih Sertifikasi SKN, Keselamatan Jadi Fokus Utama
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Sampah terlihat menumpuk di Jalan Kusbini, Demangan, Gondokusuman, Rabu (24/7/2024). Di lokasi ini Satpol PP Kota Jogja kerap menangkap pembuang sampah liar. – Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman belum sepenuhnya mengatasi persoalan sampah yang dihadapi selama ini. Bahkan untuk pengolahan meminta keringanan agar bisa membuang ke TPA Piyungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Epiphana Kristiyanti mengatakan, masih kewalahan untuk menangani persoalan sampah di Bumi Sembada. Upaya pendirian TPST Sendangsari di Kapanewon Minggir dan Tamanmartani di Kapanewon Kalasan, serta puluhan titik TPS 3R ternyata belum mampu mengatasi semuanya.
BACA JUGA: Pembangunan TPST Donokerto Sleman: Dianggarkan Rp11,5 Miliar Masuk di Tahap Lelang
“Masih belum optimal, bahkan kami sampai kewalahan karena saking banyaknya sampah yang menumpuk di lokasi-lokasi yang telah disediakan,” kata Epi, Sabtu (3/8/2024).
Untuk mengatasi masalah ini, ia mengaku sudah meminta keringanan ke Pemerintah DIY agar bisa membuang sampah ke TPA Piyungan. Adapun hasilnya sudah diizinkan membuang sebanyak 1.000 ton sampah.
Hanya saja, Epi mengungkapkan, kuota tersebut dirasa masih kurang. Pasalnya, di Sleman masih ada 980 ton yang belum terkelola sehingga menumpuk di beberapa titik seperti TPST Minggir dan Tamanmartani, TPS 3R hingga ada di lokasi pembuangan liar.
Di sisi lain, sambung dia, sampah yang terlalu lama ditumpuk tidak bisa diolah di TPST. Hal ini dikarenakan gumpalannya terlalu mengempal sehingga dapat merusakkan mata pisau pengolahan di TPST.
“Sudah pernah dicoba karena terlalu mengempal jadi mata pisaunya patah. Otomatis harus libur tiga hari untuk perbaikan sehingga menggangu operasional di TPST,” katanya.
Menurut dia, dengan adanya permintaan penambahan kuota bisa menjadi Solusi jangka pendek agar sampah dapat terkelola dengan baik. Di sisi lain, dengan fasilitas yang ada bisa fokus mengelola sampah yang baru.
“Intinya hanya untuk menghabiskan sampah-sampah lama yang telah menumpuk dan sulit diolah di TPST. Mudah-mudahan tambahan kuota yang kami ajukan bisa dikabulkan,” katanya.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan, terus berupaya untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah di Bumi Sembada. Hingga sekarang, ia mengklaim sudah bisa menangani sampah sebanyak 104,4 ton per harinya.
“Kami sudah rencanakan pembangunan TPST Donokerto dan gerakan pengurangan sampah organic. Diharapkan ini bisa menambah pengelolaan sebanyak 84 ton per harinya,” kata Kustini.
Selain itu, di 2025 juga ada rencana pembangunan TPST Gamping serta optimalisasi TPS 3R dan transfer depo. “Kami juga mendorong setiap kalurahan memiliki satu TPST 3R di masing-masing wilayahnya. Tentunya, kami juga akan terus mengedukasi Masyarakat untuk ikut berperan dalam pengolahan sampah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Pemuda Mojosongo Solo YD diduga ditangkap Densus 88. Keluarga mempertanyakan perkara dan meminta penjelasan terkait proses hukum.
APBN 2027 memang memangkas subsidi energi Rp11,44 triliun. Namun, klaim gas langka dan harga pasti naik belum terbukti.
Disertasi Jejen Hendar di UII menyoroti pengelolaan TJSP yang masih formalitas dan mendorong regulasi berbasis keadilan sosial.
Menag Nasaruddin Umar mengajak ASN Kemenag, guru, tokoh agama, dan santri menjadi agen Perlinsos untuk membantu pendataan penerima bansos.
Operasi kebakaran Transhome ditutup, tetapi basement masih bersuhu 200 derajat Celsius dan satu armada damkar tetap disiagakan.