FAM Protes Injury Time Indonesia vs Bangladesh, Minta FIFA Jelaskan
FAM meminta FIFA menjelaskan perubahan injury time Indonesia vs Bangladesh dari dua menjadi tujuh menit dalam FIFA ASEAN Cup 2026.
Sukito, warga Dusun Wonotingal, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul, saat merangkai sampah kayu menjadi lukisan 3 dimensi di rumahnya, Selasa (6/8/2024)/ Harian Jogja-Jumali
Harianjogja.com, BANTUL—Sampah kayu dan ranting di pinggir pantai tidak selamanya menjadi sampah. Oleh, Sukito, warga Dusun Wonotingal, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul, sampah tersebut mampu disulap menjadi karya seni, berupa lukisan tiga dimensi dengan nilai ekonomi tinggi.
Ditemui di rumahnya, Sukito, 41 menceritakan, awalnya pada 2022 dirinya mulai mengumpulkan sampah kayu dan ranting yang terbawa arus di pinggir pantai. Sampah tersebut dibawa pulang. Awalnya, Sukito mengaku hanya iseng menyusun sampah kayu dan ranting tersebut menjadi sebuah karya seni berupa lukisan tiga dimensi.
"Untuk satu karya saya butuh waktu sekitar sebulanan," kata Sukito.
BACA JUGA: Lokasi TPSS Baru di Bantul Kemungkinan Besar Tidak Jauh dari TPSS Gadingsari
Karena waktu pembuatan satu karya yang cukup lama, maka Sukito mengaku saat ini dirinya baru bisa membuat tujuh karya. Di mana setiap karyanya, memvisualisasikan pemandangan kehidupan di pesisir Pantai Selatan Bantul dan Gunungkidul, seperti Pantai Kukup, Taman Watu di Gunungkidul dan Bukit Parangtritis, di Kretek, Bantul.
Di samping itu, Sukito juga mengakui jika lamanya pembuatan satu karya tersebut tidak lepas dari kondisi mood dirinya. Sebab, seringkali dirinya menghentikan penyusunan karya karena suasana hatinya sedang tidak bersahabat.
"Kalau mood sedang jelek, saya berhenti sebentar. Nanti dilanjut setelah moodnya membaik. Karena kalau mood membaik, maka ide itu akan muncul dan ada keinginan meneruskan pembuatannya," terangnya.
Berangkat dari hal tersebut, Sukito pun mengaku hasil karyanya tersebut awalnya tidak dibanderol. Ia bahkan membebaskan teman-temannya untuk menjualkan karyanya. Karena dirinya berprinsip akan tetap berkarya tanpa memikirkan apakah karyanya tersebut terjual atau tidak.
"Sejauh ini baru satu dari tujuh karya saya yang kejual. Kebetulan kemarin laku Rp3 juta. Tapi, saya akan tetap berkarya ditengah pekerjaan lepas yang saya geluti," ucap Sukito.
Panewu Srandakan Sarjiman mengapreasi langkah yang dilakukan oleh Sukito. Sebab, Sukito mampu memanfaatkan potensi yang ada di wilayahnya untuk pengembangan wisata. Ia berharap agar, langkah Sukito ini bisa ditiru oleh warga lainnya dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
"Ini potensi dan bisa dikembangkan. Kami berharap ke depan, muncul dan berkembang potensi-potensi yang berujung kepada peningkatan perekonomian warga," ucap Sarjiman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
FAM meminta FIFA menjelaskan perubahan injury time Indonesia vs Bangladesh dari dua menjadi tujuh menit dalam FIFA ASEAN Cup 2026.
Influenza A belum ditemukan di Bantul hingga 1 Oktober. Dinkes mengingatkan warga memperkuat PHBS dan menjaga daya tahan tubuh.
Arie Sujito menilai reshuffle kabinet Prabowo harus menjawab problem dan harapan publik, bukan justru memunculkan teka-teki baru.
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman digelar dua hari di Kulonprogo, mempertemukan 25 stan dan stakeholder pertanian DIY.
Pengajuan pengunduran diri Dukuh Krapyak Wetan, Bantul, belum memenuhi syarat. Pemkab menyebut hasil klarifikasi tak menemukan unsur tuduhan.