Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman mulai melakukan pemantauan terhadap area pertanian yang terdampak kekeringan saat kemarau. Penyaluran bantuan pompa dan pembuatan sumur terus dilakukan agar saat kemarau lahan milik warga tetap bisa produktif.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan, hingga sekarang belum ada laporan area pertanian yang terdampak kekeringan. Meski demikian, pihaknya tidak berdiam diri karena petugas lapangan telah diinstruksikan untuk memantau di wilayah masing-masing.
BACA JUGA: Puncak Musim Kemarau, Warga Diminta untuk Tidak Boros Air
“Petugas lapangan tetap memantau dan mendata kalau ada lokasi yang terdampak karena kekeringan,” kata Pram, sapaan akrabnya, Selasa (20/8/2024).
Meski demikian, ia tidak menampik musim kemarau bisa memberikan dampak di area pertanian. Oleh karenanya, pemkab terus berupaya melakukan mitigasi sehingga lahan milik petani bisa tetap produktif, meski ada keterbatasan pasokan air.
Menurut dia, pemkab rutin memberikan bantuan ke kelompok tani untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Sebagai contoh, di tahun ini ada pembangunan irigasi air tanah dangkal dan juga sumur-sumur ladang.
“Kami sudah fasilitasi pembanguann irigasi air tanah dangkal sebanyak 15 lokasi,” katanya.
Pram menambahkan, juga ada bantuan mesin pompa kepada para petani di Sleman. hingga sekarang sudah ada 17 unit yang diberikan untuk membantu penyediaan air untuk pemeliharaan tanaman.
“Meski kemarau, maka petani bisa tetap menanam dan lahan yang dimiliki tetap bisa produktif. Rencananya di APBD Perubahan 2024, kami juga menambah bantuan pompa sebanyak 35 unit ke petani,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, terus berkoordinasi dengan BMKG DIY berkaitan dengan perkembangan cuaca. Diketahui saat ini sudah memasuki puncak musim kemarau sejak akhir Juli lalu.
“Untuk detailnya bisa menghubungi BMKG, tapi diperkirakan puncak kemarau terjadi hingga akhir Agustus ini,” kata Bambang saat dihubungi, Ahad (18/8/2024).
Dia menjelaskan, puncak musim kemarau bisa dilihat dari kondisi cuaca yang terlihat lebih cerah. Di sisi lain, juga tidak ada hujan dalam kurun waktu lebih dari satu bulan.
Adapun dampak dari puncak kemarau, Bambang mengakui bisa terlihat dari debit air yang mengalami penurunan. Meski demikian, hingga saat sekarang ia memastikan kondisinya masih aman dan terkendali.
Hal ini terlihat belum adanya permintaan bantuan air bersih dari Masyarakat. “Masih aman, tapi kami tetap berjaga-jaga apabila ada warga yang membutuhkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Penembakan terjadi di dekat Gedung Putih, AS. FBI dan Dinas Rahasia menangani insiden yang melukai dua orang.
BMKG mengeluarkan peringatan dini hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sejumlah kota besar Indonesia pada Minggu.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Ketua BPD Hipmi Jatim Ahmad Salim Assegaf membantah narasi mayoritas BPD Hipmi menolak pelaksanaan Munas XVIII Hipmi di Lampung.
Selain mempermudah mobilitas, kehadiran bus KSPN juga diarahkan untuk mendorong penggunaan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan di kawasan pariwisata