Layanan PDAM Kota Jogja Masih 30 Persen, Sanitasi Jadi Tantangan
Cakupan layanan PDAM Kota Jogja baru mencapai 30 persen. Air tanah yang masih dianggap baik dan persoalan sanitasi menjadi tantangan.
Perumahan - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, BANTUL–Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Bantul menolak kebijakan program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang akan dikenakan kepada pekerja yang bergaji di atas Upah Minimum Regional (UMR).
Ketua DPC SPSI Bantul, Fardhanatun dengan tegas menolak kebijakan tersebut. “Kami menolak Tapera, karena sangat memberatkan kami,” ujarnya, Selasa (8/10/2024).
BACA JUGA: Tapera, Tabungan Perumahan Rakyat atau Tabungan Pemberat Rakyat
Menurut Fardhanatun, potongan tersebut dinilai memberatkan. Meskipun kebijakan tersebut mengatur pekerja hanya dibebani dengan potongan sebesar 0,5% dari gaji.
Fardhanatun menuturkan, selama ini pekerja di Bantul memiliki UMK yang minim hanya berkisar Rp2,2 juta. Angka tersebut pun telah meningkat 7,26% dari UMK tahun 2024.
"Kalau dipotong 0,5% jadi berapa [UMK]? Belum potongan lainnya. Kami menolak Tapera," katanya.
Dia menilai, potongan Tapera akan membuat upah yang diterima pekerja Bantul setiap bulannya semakin menurun. Dia menambahkan, selama ini pekerja telah dibebani iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, kebutuhan pokok dan biaya hidup lain terus meningkat.
Fardhanatun menyampaikan, pihaknya di tahun 2023 lalu mengajukan usulan untuk kenaikan UMK sekitar 10%. Namun, usulan tersebut tidak disetujui. Sebab dewan pengupahan mempertimbangkan beberapa indikator perhitungan, antara lain kondisi ekonomi, dan inflasi.
Dia menilai, kenaikan UMK 7,26% tersebut tidak seberapa. Apalagi jika ditambah potongan Tapera.
"Tapera kami menolak karena potongan terlalu tinggi. Tapera itu seharusnya tanggungjawab pemerintah [penyediaan perumahan rakyat] bukan kami yang dipotong [upahnya]," ucapnya.
Dia menyebut, pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan perumahan bagi masyarakat. Penyediaan rumah itu seharusnya dialokasikan dengan anggaran pemerintah yang ada, bukan malah menghimpun dana dari pekerja.
Menurut Fardhanatun, sebagian besar pekerja di Bantul merupakan warga lokal. Sehingga mayoritas dari mereka telah memiliki lahan atau rumah warisan keluarga.
Dia menilai, kebijakan tersebut tidak dapat diterapkan secara merata pada semua pekerja. Namun, disesuaikan dengan kebutuhan tiap pekerja. "Yang punya rumah warisan orang tua apakah juga dipotong [upahnya]? Untuk sehari-hari saja tidak cukup," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cakupan layanan PDAM Kota Jogja baru mencapai 30 persen. Air tanah yang masih dianggap baik dan persoalan sanitasi menjadi tantangan.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA Senin 27 Juli 2026 untuk layanan reguler dan Xpress dari Tugu Jogja dan Bandara YIA.
Jadwal lengkap KRL Solo-Jogja hari ini dari Stasiun Palur mulai pukul 05.00 WIB hingga Stasiun Tugu Yogyakarta.
Jadwal lengkap KRL Jogja-Solo Senin 27 Juli 2026 dengan 15 perjalanan dan tarif tetap Rp8.000 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur.
Imigrasi Manado menunda 24 keberangkatan PMI terindikasi TPPO hingga Juli 2026 sebagai upaya mencegah pekerja migran nonprosedural.
Rusia mengklaim menyerang pusat logistik dan fasilitas produksi drone Ukraina, sementara Iran memprotes serangan Ukraina di Laut Kaspia.