Lurah Pacarejo Jelaskan Pontesi Banjir Empat Padukuhan Apabila Luweng Tersumbat

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Minggu, 20 Oktober 2024 23:07 WIB
Lurah Pacarejo Jelaskan Pontesi Banjir Empat Padukuhan Apabila Luweng Tersumbat

Ilustrasi hujan deras disertai angin./Pixabay

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Curah hujan tinggi berpotensi membuat luweng Gunung Ringin di Gunungkidul tertutup dedaunan atau sendimentasi.  Lurah Pacarejo, Kapanewon Semanu, Suhadi mengatakan apabila luweng Gunung Ringin tertutup, maka ada empat padukuhan di Kalurahan Pacarejo akan terendam banjir. Banjir bahkan dapat mencapai 1 meter.

“Empat itu, tiga di antaranya Padukuhan Kuwangen Lor, Wilayu, dan Jonge. Rata-rata bisa mencapai ketinggian 80 centimeter tinggi banjirnya,” kata Suhadi dihubungi, Minggu, (20/10/2024).

Suhadi menambahkan apabila luweng Gunung Ringin tertutup, SMPN 3 Semanu dapat terendam banjir hingga ketinggian 1 meter. Sebab itu, luweng tersebut saat ini sudah dinormalisasi dengan dibangunkan tanggul pada Agustus 2024. “Sudah kami bersihkan dan keruk juga. Hujan hari ini kami pantai sudah tidak ada masalah,” katanya.

Setidaknya ada tujuh luweng di Pacarejo antara lain Luweng Gunung Ngringin, Jawal, Tumbul, Lumbung, Kirik, Brahala, dan Tlaga Ledok.

BACA JUGA: Hujan Lebat, Bus Pariwisata Tertimpa Pohon di Tanjungsari Gunungkidul

Pada Maret 2024, di Padukuhan Kwangen Lor, kebun warga seluas satu hektare terendam air setinggi kurang lebih satu meter. Hal ini disebabkan oleh tidak berfungsinya luweng akibat terjadi sedimentasi atau tertutup dedauan/material.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono mengaku akan mengingatkan lagi masyarakat dan pihak terkait mengenai surat edaran (SE) Bupati Gunungkidul nomor 600.1.1/7163 terkait dengan gerakan bersih kali dan/atau luweng.

Ada dua instruksi dalam SE tersebut. Pertama, Ketua RT maupun Ketua RW perlu bersama-sama dengan masyarakat melakukan gerakan bersih kali atau luweng serta saluran air di lingkungan sekitar. Kedua, larangan masyarakat untuk membuang sampah sembarangan seperti di sungai, selokan dan saluran air lainnya.

Hary mengimbau agar masyarakat membersihkan drainase dari sampah agar air dapat mengalir dan tidak melimpas ke badan jalan.

“Kalau antisipasi banjir lain, ya ada sungai permukaan. Lalu, ya luweng-luweng itu, dan membersihkan aliran air. Tidak ada genangan, maka tidak merusak jalan apalagi aspal. Bisa mengikis,” kata Hary.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online