PSEL Belum Beroperasi, Sleman Kerahkan Pendamping Sampah
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Taman wisata Kaliurang. - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN–Pertumbuhan objek wisata baru di Kabupaten Sleman memengaruhi kunjungan wisatawan di Kawasan Wisata Kaliurang. Wisatawan diprediksi lebih menyebar ke objek-objek wisata yang ada.
Koordinator Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Kaliurang, Danang Sumbodo mengatakan angka kunjungan pada akhir pekan, utamanya hari Minggu tidak tetap, fluktuatif.
“Dulu kalau setiap hari Sabtu dan Minggu itu angka kunjungan hari Minggu ramai. Sekarang kadang Sabtu ramai, Minggu tidak ramai. Faktornya pertumbuhan wisata baru dan cuaca juga,” kata Danang dihubungi, Kamis (23/1/2025).
BACA JUGA: Bersegementasi Anak Sekolah, Desa Wisata Pentingsari Tak Alami Lonjakan saat Akhir Tahun
Danang tidak dapat menyebutkan objek wisata yang dia maksud. Hanya menurut dia objek wisata baru tergolong banyak di Kabupaten Sleman.
Menyambut libur panjang Isra Mikraj dan Imlek, Danang mengatakan tidak ada penambahan tiket. Mereka telah menggunakan tiket elektronik atau e-ticket.
“Kami tidak bisa memprediksi angka kunjungan. Tidak tentu sekarang itu, hari-hari Minggu juga bisa turun angka kunjungan,” katanya.
Danang mencatat ada sebanyak 37.502 wisatawan yang berkunjung di Kawasan Wisata Kaliurang sejak awal Januari hingga Minggu (19/1/2025). Kunjungan paling banyak tercatat pada Rabu (1/1/2025) dengan 7.729 wisatawan. Adapun akhir pekan angka kunjungan berada di angka 1.570 hingga 2.515 wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Ishadi Zayid mengatakan Dispar melihat angka kunjungan di Kawasan Wisata Kaliurang 2024 tidak jauh beda dengan kunjungan tahun sebelumnya. “Kami lihat masih seperti yang dulu,” kata Ishadi.
Disinggung ihwal pengembangan Satuan Ruang Strategis (SRS) Gunung Merapi, Ishadi mengaku pihaknya telah mendapat dana alokasi khusus pada 2024. Dana ini digunakan untuk merehabilitasi Plaza Gardu Pandang.
BACA JUGA: Tutup Dua Tahun, Museum Gunung Merapi Segera Dibuka Kembali
Mengenai pengembangan lain, Ishadi menegaskan sulit untuk mendirikan destinasi baru di SRS Gunung Merapi. SRS ini juga terikat dengan kawasan rawan bencana. Setiap perubahan bentang alam akan membahayakan, utamanya ketika terjadi guguran lahar. Jalur lahar akan berubah dan berpotensi mengarah ke kawasan permukiman.
“Pengembangan tetap ada. Tapi tidak bisa kalau secara masif. Susah maksudnya. Nanti bisa terkena pengawasan ATR/BPN juga,” kata Ishadi.
Ishadi juga menganggapi ihwal transportasi menuju kawasan Gunung Merapi. Kata dia, belum ada transportasi khusus yang membawa wisatawan menuju SRS Gunung Merapi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Apple Music menghadirkan Discovery Station, fitur rekomendasi musik baru berbasis algoritma personal untuk menemukan lagu baru.
Pertamina Patra Niaga tambah pasokan 5,8 juta tabung LPG 3 kg selama libur panjang Mei 2026. Warga diimbau beli sesuai kebutuhan.
Alex Marquez menang sprint race MotoGP Catalunya 2026 usai mengalahkan Pedro Acosta dengan selisih tipis 0,041 detik.
Suzuki Burgman 150 resmi meluncur dengan fitur TCS, ABS dual-channel, dan panel TFT untuk menantang Honda PCX serta Yamaha NMAX.
Meta menghadapi protes internal setelah program pengawasan karyawan untuk pengembangan AI dinilai melanggar privasi pekerja.