57 Persen Warga Alami Masalah Gigi, Edukasi Anak Dinilai Mendesak
FKG UI menegaskan edukasi kesehatan gigi sejak dini penting untuk mencegah masalah gigi yang masih dialami 57 persen masyarakat Indonesia.
Seniman dan Budayawan Komunitas Pasar Kumandhang. - Antara/ist-Komunitas Pasar Kumandhang
Harianjogja.com, SLEMAN—Komunitas Seniman dan Budayawan Pasar Kumandhang menggelar kegiatan bertajuk Ruwatan di Kaki Merapi 2025, Minggu (9/2/2025) di Pasar Kumandhang Lojajar, Kapanewon (Kecamatan) Tempel, Kabupaten Sleman, DIY.
"Kegiatan yang digelar di kaki Gunung Merapi ini dirancang untuk menandai pembukaan resmi Pasar Kumandhang sekaligus merevitalisasi peran pasar tradisional sebagai ruang transaksi, interaksi dan pelestarian budaya Jawa," kata Manajer Program Pasar Pasar Kumandhang Tomon Haryowirosobo di Sleman, Jumat (7/2/2025).
Menurut dia, inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap memudarnya vitalitas pasar tradisional. Pasar tradisional saat ini terasa kurang greget dan kehilangan ruhnya sebagai ruang hidup masyarakat.
"Melalui Pasar Kumandhang, kami ingin mengembalikan spirit tersebut dengan pendekatan budaya," katanya.
Ia mengatakan, Pasar Kumandhang, dengan tagline Pasar Senine Wong Sleman diinisiasi bersama akademisi Komunitas Seni Kehutanan (KSK) UGM, seniman dan pegiat sastra. Konsep ini tidak hanya fokus pada transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi wadah penguatan nilai-nilai kebudayaan Jawa, seperti gotong royong dan kearifan lokal.
BACA JUGA: Jembatan Srandakan Lama di Bantul Ambrol, Ini Kata Panewu Srandakan
"Prosesi budaya dan aksi lingkungan dalam kegiatan ini akan dimulai pada Minggu 9 Februari pukul 13.00 WIB dengan prosesi ruwatan yang dipimpin oleh dalang ternama, Ki Suwanda. Sebanyak 25 peserta dari berbagai daerah seperti Bekasi, Magelang, Kalimantan, DIY dan Jawa Tengah akan mengikuti ritual tradisional ini," katanya.
Ruwatan, kata dia, sebagai simbol pembersihan diri dari energi negatif, menjadi ikhtiar kultural untuk menyemai harmoni antara manusia, alam dan budaya. Usai prosesi, peserta akan melakukan aksi penanaman pohon di area Pasar Kumandhang sebagai bentuk komitmen pelestarian lingkungan," katanya.
Acara juga dimeriahkan oleh pertunjukan Gejog Lesung Kidung Giri Budaya dari Ngemplak, Sleman, yang akan menyuguhkan kesenian tradisional khas Jawa.
Ia menyebutkan bahwa biaya kegiatan ini seluruhnya merupakan partisipasi, gotong royong dan bukan komersialisasi. Meski peserta dikenai biaya Rp300.000 per orang dan pendamping Rp100.000 per orang, hal ini murni untuk mendukung operasional acara.
"Dana digunakan untuk sewa tenda, konsumsi, atribut, dan honor dalang. Ini adalah bentuk gotong royong, bukan kegiatan komersial," katanya.
Ia mengatakan, Pasar Kumandhang dirancang sebagai respons atas tergerusnya interaksi manusia di pasar modern.
"Kami membangun pasar yang kurang kumandhang’menjadi ruang hidup yang sarat nilai budaya. Ini adalah upaya konkret menjaga warisan leluhur sekaligus merawat ekosistem pasar tradisional," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
FKG UI menegaskan edukasi kesehatan gigi sejak dini penting untuk mencegah masalah gigi yang masih dialami 57 persen masyarakat Indonesia.
Genesis Mission membuka era baru riset berbasis AI. Simak peran Google, dampaknya bagi sains global, dan peluang implementasinya di Indonesia.
Pemerintah Indonesia melobi AS agar minyak sawit dikecualikan dari tarif tambahan 10 persen. Airlangga menyebut proses di USTR masih berlangsung.
Polda Metro Jaya menetapkan tujuh tersangka bentrokan Pegangsaan. Warga dan keluarga korban sepakat menjaga kondusivitas serta mendukung proses hukum.
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 28 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Cek 12 jadwal perjalanan dan tarif tetap Rp8.000.
Kemkomdigi meminta publik melihat utuh pernyataan Presiden Prabowo soal "londo ireng" dan menegaskan tidak ditujukan kepada profesi atau kelompok tertentu.