Tekan Pengangguran, Padat Karya Digelar di 65 Titik di Gunungkidul
Program padat karya di Gunungkidul digelar di 65 titik pada 2026 dengan anggaran Rp100-200 juta per lokasi untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi
Ilustrasi panen padi - ist/ngawikab.go.id
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul memperkirakan puncak panen raya padi di musim tanam pertama terjadi pada Maret 2025. Total luas lahan yang panen mencapai 35.351 hektare.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, luas tanam padi di musim tanam pertama mencapai 45.921 hektare. Gerakan masa tanam sudah dimulai pada Oktober 2024, dengan luasan 8449 hektare.
Adapun November menjadi puncak masa tanam karena di bulan ini ada lahan seluas 35.351 hektare yang ditanami padi. Sedangkan Desember 2024, jumlahnya menurun karena hanya ada lahan seluas 2.120 hektare yang ditanami padi.
“Kalau Oktober sudah menanam, maka Februari ini sudah masuk masa panen,” kata Raharjo, Kamis (20/2/2025).
Meski demikiann, ia mengakui, panen di bulan ini belum masuk puncak panen raya. Pasalnya, panen yang lebih masih diperkirakan terjadi pada Maret mendatang.
“Bulan depan [Maret] panennya bisa mencapai 35.351 hektare. Sebenarnya, mulai Januari sudah ada yang panen, tapi luasannya baru 323 hektare,” katanya.
BACA JUGA: Sempat Suspek, Sapi di Tileng Girisubo yang Mati Dipastikan Positif Antraks
Berdasarkan data yang ada, lanjut Raharjo, Kapanewon Ponjong menjadi wilayah dengan luasan tanaman padi paling banyak. Pasalnya, di lokasi ini lahan yang ditanami padi mencapi 4.004 hektare.
Selanjutnya, ada Kapanewon Semin dengan luasan 3.996 hektare; Kapanewon Karangmojo 3.364 hektare; Kapanewon Wonosari seluas 3.219 hektare. “Untuk yang lain tersebar di 14 kapanewon lain di Gunungkidul dengan luasan dari 1.600-3.000an hektare,” ungkapnya.
Ketua Tim Sarana dan Prasarana Pertanian, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Yatimah mengatakan, pemeritnah berkomitmen untuk memperkuat ketahanan pangan di Masyarakat. Oleh karena itu, berbagai program dijalankan untuk mewujudkan swasembada pangan ini.
Salah satu yang dilakukan dengan melaksanakan program irigasi perpompaan. Tahun lalu, kata dia, total ada bantuan pembangunan irigasi perpompaan di 39 lokasi di Bumi Handayani.
“Kami bersyukur bisa berhasil karena sudah mulai membuahkan hasil dengan dilaksanakannya panen raya padi dari program irigasi perpompaan. Harapannya lewat program ini dapat menambah pertanaman padi di Gunungkidul,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur di Padukuhan Tobong, Mursiyo mengatakan, panen padi mulai dilaksanakan pada pertengahan Januari lalu. Total lahan yang dipanen seluas satu hektare.
“Panennya bagus dan ini sangat mengembirakan,” kata Mursiyo.
Dia menjelaskan, padi yang ditanam berjenis Inpari 42. Hasil pengubinan yang dilakukan mampu menghasilkan paling banyak 8,4 ton gabah kering giling per hektarenya.
“Kalau dirata-rata dari total keseluruhan lahan yang panen mencapai 6,5 ton gabah kering giling per hektarenya,” ungkapnya. (David Kurniawan)
foto
Harian Jogja/David Kurniawan
Sejumlah petani di Kalurahan Rejosari, Semin sedang memanen padi hasil tanam di musim pertama. Kamis (20/2/2025)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program padat karya di Gunungkidul digelar di 65 titik pada 2026 dengan anggaran Rp100-200 juta per lokasi untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi
Pergeseran anggaran uji tanah Stadion Mandala Krida rampung. DPRD DIY mendorong penyusunan DED dianggarkan pada 2027 sebagai tahapan renovasi stadion.
Isuzu menghadirkan Traga konsep salon berjalan di GIIAS 2026 sekaligus memperkenalkan sistem penyaringan bahan bakar ganda untuk diesel B50.
DPRD DIY mendorong DED sekolah khusus olahraga disiapkan pada 2027 agar target pendirian pada 2028 sesuai Perda Olahraga DIY tercapai.
BMKG mengingatkan potensi hujan petir di Padang dan hujan ringan di sejumlah kota di Indonesia pada Minggu. Simak prakiraan cuaca lengkapnya.
Fuso meluncurkan bus LWB 4,2 meter di GIIAS 2026 untuk memenuhi kebutuhan angkutan wisata seiring meningkatnya sektor pariwisata nasional.