Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Kepala DP3AP2 DIY, Erlina Hidayati Sumardi, saat ditemui dalam Puncak Peringatan Hari Kartini, di Bangsal Kepatihan, Rabu (23/4/2025)./ Harian Jogja - Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY terus mendorong korban kekerasan terutama perempuan untuk berani speak up atau melaporkan apa yang menimpanya kepada pihak terdekat.
Kepala DP3AP2 DIY, Erlina Hidayati Sumardi, menjelaskan angka kekerasan pada perempuan dan anak yang dilaporkan meningkat dari 2023 sebanyak 1.182 kasus, pada 2024 menjadi 1.328 kasus. Kenaikan kasus yang dilaporkan ini menurutnya karena lebih banyak korban yang melapor.
"Terutama di perguruan tinggi, di sekolah, itu kemudian makin muncul korban-korban yang mau mengadukan permasalahannya," ujarnya saat ditemui dalam Puncak Peringatan Hari Kartini, di Bangsal Kepatihan, Rabu (23/4/2025).
Menurutnya, pemicu kasus kekerasan tergantung dengna jenis kekerasan yang terjadi. Namun sebagian besar kekerasan terjadi dipicu oleh relasi kuasa. "Artinya pelaku memiliki relasi kuasa terhadap korbannya, sehingga mereka kemudian melakukan kekerasan itu," ungkapnya.
Meski demikian, seseorang untuk menjadi pelaku kekerasan juga disebabkan oleh proses panjang. "Sebagian besar yang kami ikuti, berasal dari pengasuhan yang kurang tepat. Sehingga ketika dari kecil tidak diajari untuk menghargai orang lain, gedenya akan memiliki perilaku kekerasan. Karena dianggap melakukan kekerasan adalah sesuatu yang normal," katanya.
Untuk korban, ia terus mendorong agar berani untuk melaporkan kekerasan yang menimpany. "Pertama harus lapor atau menyampaikan ke lingkungan yang paling dekat, bis aitu orang tua, guru, orang dewasa setempat atau ke layanan korban kekerasan," paparnya.
BACA JUGA: Seorang Anggota Polisi Bripda MNF Aniaya Wanita, Kini Ditetapkan Tersangka
Korban kekerasan biasanya takut untuk melaporkan. Maka ia mengingatkan jika telah melaporkan, korban dipastikan terjamin keamanannya. "Kami ketika mengedukasi masyarakat selalu kami sampaikan, jangan takut ketika mengadukan. Karena ketika mengadukan akan terdampingi semuanya, baik psikologis, proses hukum, ketenangan Rohani, fasilitas rumah aman," ujarnya.
Ia memastikan kepada korban bahwa korban harus percaya ketika berani melaporkan, maka akan membawa kebaikan pada dirinya. "Terhadap korban langsung diberikan pendampingan psikologi, karena semua korban memiliki permasalahan psikologis ketika menjadi korban," kata dia.
Apalagi ketika menjadi korban kekerasan seksual, biasanya korban tidak bisa langsung menyampaikan kekerasan yang menimpanya. "Itu biasanya butuh waktu. Petugas kami sudah kami latih untuk itu. Petugas harus memafami sisi psikologis korban. Kalau belum mau menyampaikan kasusnya gapapa. Didampingi terus sampai dia mau cerita," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Ingin merencanakan kehamilan? Simak faktor penting seperti usia, kesehatan, dan gaya hidup yang memengaruhi kesuburan.
Progres Tol Jogja-Solo Seksi Trihanggo-Junction Sleman capai 85%. Ditargetkan selesai Oktober 2026 dan segera tersambung ke Tol Jogja-Bawen.
Ribuan warga hadir dalam pengajian dan sholawatan HUT ke-110 Sleman. Bupati tekankan pembangunan spiritual dan kebersamaan.
Chelsea resmi menunjuk Xabi Alonso sebagai pelatih baru. Simak profil, kontrak, dan target The Blues di musim mendatang.
Westlife bakal konser di GBK Jakarta 2027. Simak jadwal presale, harga tiket lengkap, dan cara beli tiketnya di sini.