Kasus Kekerasan Anak di Gunungkidul Capai 50 hingga Juli
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Sapi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul memastikan tidak ada masalah dengan kebutuhan hewan Kurban. Pasalnya, jumlah populasi sapi dan kambing yang ada melebihi dari kebutuhan sehingga seringkali dijual ke luar daerah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan, tidak ada masalah dengan kebutuhan hewan Kurban di Bumi Handayani. Malahan, ia mengklaim banyak ternak-ternak yang dipasarkan ke luar daerah.
Menurut dia, kebutuhan hewan Kurban diperkirakan mencapai 1.800 ekor kambing dan 5.000 ekor sapi. Hal ini mengacu pada kebutuhan saat perayaan Iduladha di tahun lalu.
BACA JUGA: Puluhan Orang Kontak dengan Hewan Positif Antraks di Gunungkidul
Adapun hasil pendataan yang telah dilakukan, total populasi ternak yang siap untuk Berkurban mencapai 15.000 ekor. Jumlah ini terdiri dari Sapi sekitar 23.660 ekor dan kambing serta domba sebanyak 2.000 ekor.
“Kita surplus hewan ternak sehingga siap memasok kebutuhan hewan Kurban ke luar daerah,” kata Wibawanti kepada wartawan, Minggu (25/5/2025).
Ia pun tidak mengkhawatirkan adanya kasus penyebaran antraks maupun Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang belum lama ini terjadi. Berbagai upaya pencegahan maupun penanggulangan terus dilakukan agar kasus bisa terus terkendali.
Salah satu upaya untuk memastikan keamanan digencarkan program vaksinasi hewan ternak. Melalui program ini juga menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).
Menurut dia, pelaksanaan vaksinasi ini menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). “Kami terus dorong agar peternak mau mengikuti vaksin sehingga dapat memeroleh SKKH,” katanya.
Wibawanti tidak menampik adanya SKKH akan lebih memudahkan penjualan ternak untuk Berkurban. Pasalnya, ada jaminan ternak yang dimiliki dalam keadaan sehat yang dibuktikan dengan surat tersebut.
“Ini momen penting bagi peternak sehingga SKKH harus dimiliki sebagai jaminan hewan ternak yang dimiliki dalam kondisi sehat,” katanya.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta mengatakan, pos pos pengawasan ternak di wilayah perbatasan akan dioptimalkan. Selain itu, untuk mencegah antraks juga sudah menggagas peraturan memberikan kompensasi bagi ternak mati karena penyakit.
“Kompensasi ternak mati karena penyakit menular paling banyak Rp5 juta,” katanya.
Menurut dia, kompensasi diberikan untuk mencegah terjadinya penyembelihan bangkai ternak maupun praktik brandu yang seringkali menjadi penyebab antraks di Gunungkidul. “Memang tidak bisa menutupi kerugian menyeluruh. Paling tidak, kompensasi diberikan bisa untuk mengebumikan ternak mati sekaligus dapat dipergunakan membeli anakan ternak kemudian dibesarkan,” ungkap Sri Suhartanta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Harga ayam dan telur mulai naik seiring program MBG kembali berjalan. Dapur SPPG diminta membeli bahan baku langsung dari peternak.
Kemenkeu menyiapkan pertemuan dengan pimpinan BI usai Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Pemkab Kulonprogo mengeluhkan minimnya keterlibatan dalam program MBG dan menyoroti sebaran SPPG yang belum merata di wilayahnya.
Kabupaten Bantul akan memasok 250 ton sampah per hari untuk mendukung operasional PSEL Piyungan yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2028.
Xpeng melakukan recall 33.473 unit X9 di China akibat potensi kebocoran pada suspensi udara depan. Perbaikan gratis akan dimulai pada 28 Agustus 2026.