Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Grebeg Gunungan dibagikan kepada masyarakat di Masjid Gede Kauman, Sabtu (7/6/2025). /istimewa-Humas Pemda DIY.
Harianjogja.com, JOGJA—Hajad Dalem Grebeg Besar Tahun Je 1958/2025 digelar pada Sabtu (7/6/2025). Sebanyak tujuh gunungan dibagikan di empat titik. Berbeda dari Grebeg sebelumnya, kali ini pihak Kepatihan datang atau nyadhong ke Kraton untuk menerima gunungan. Dengan demikian tidak ada utusan Raja Kraton atau Utusan Dalem yang mengantar Gunungan ke Kompleks Kepatihan.
Masyarakat dan wisatawan memenuhi Kagungan Dalem Pagelaran serta Halaman Masjid Gedhe Kauman Jogja sejak pagi untuk melihat prosesi Grebeg Besar ini. Grebeg Besar merupakan satu dari tiga Grebeg yang dilaksanakan Kraton, di samping Grebeg Syawal dan Grebeg Mulud.
Tahun ini, Grebeg Besar mengalami penyesuaian teknis dalam prosesi pembagian ubarampe gunungan, khususnya untuk titik Kepatihan. Mengacu pada pranata adat lama, mekanisme distribusi gunungan kini kembali seperti masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, guna menjaga kesakralan dan kelancaran prosesi.
BACA JUGA: Sudah Cair! Ini Cara Cek Penerima Bantuan Subsidi Upah BSU BPJS Ketenagakerjaan
Penghageng Kawedanan Hageng Kridhomardowo Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, KPH Notonegoro, menjelaskan jika sebelumnya Ubarampe Gunungan dikirim langsung dari Keraton, kini pihak Kepatihan atau Sekda DIY datang ke Keraton untuk menerima gunungan secara langsung.
Setelah mengikuti arak-arakan menuju Masjid Gedhe dan selesai didoakan, gunungan dibawa ke Kompleks Kepatihan dan dibagikan secara tertib. "Tidak ada utusan dari dalam yang mengantar ke Kepatihan. Justru dari Kepatihan yang datang ke Keraton untuk nyadhong, atau meminta gunungan, lalu dibawa pulang dan dibagikan," katanya.
Prosesi ini menjunjung nilai cadhong, yaitu pembagian secara tertib dan tidak dirayah. Filosofi nyadhong menekankan penghormatan terhadap simbol kesejahteraan dan berkah dari raja kepada rakyatnya. Sekda DIY berjalan bersama iring-iringan bregada membawa Ubarampe Gunungan menuju Kepatihan. Setibanya di sana, Ubarampe Gunungan diterima oleh para Asisten Sekda DIY untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Selain Kepatihan, pembagian Ubarampe Gunungan tetap berlangsung di tiga titik lain yaitu Ndalem Mangkubumen, Masjid Gedhe, dan Puro Pakualaman. Gunungan dibagikan secara tertib, satu per satu, sebagai wujud tata krama dan penghormatan terhadap tradisi dan tatanan kosmos.
"Grebeg bukan sekadar perayaan, tetapi manifestasi filosofi masyarakat Jogja yang menjunjung keteraturan, hormat pada pemimpin, dan syukur atas berkah," ungkapnya.
Selain itu, pada Grebeg Besar kali ini menampilkan rekonstruksi prajurit putri Langenastra yang menari tayungan menuruni Sitihinggil saat lampah macak. Posisinya berada di belakang barisan Bregada Mantrijero.
“Tata cara ini mengacu pada pranatan adat lama, seperti masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII guna menjaga kesakralan dan kelancaran prosesi,” kata KRT Kusumanegara selaku Ketua Pelaksana Garebeg Besar 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Prabowo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski kurs dolar dan ekonomi global bergejolak.
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.