BPBD Gunungkidul Kaji Sinkhole Tileng Bersama Tim Undip
BPBD Gunungkidul menggandeng tim ahli Undip untuk mengkaji sinkhole di Tileng, Girisubo, yang terus melebar di area pertanian warga.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul terus berupaya agar kasus hipertensi bisa terkendali. Oleh karena itu ada kewajiban bagi penderita untuk memeriksakan diri ke puskesmas minimal satu bulan sekali.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Musiyanto mengatakan, penyakit hipertensi tidak bisa disembuhkan karena upaya penanganan dilakukan agar kasus bisa terkendali sehingga tidak terjadi hal yang fatal. Pasalnya, penyakit darah tinggi ini bisa memicu terjadinya stroke hingga berujung kepada kematian.
“Yang bisa dilakukan agar hipertensi bisa terkendali sehingga tekanan darah bisa stabil di angka normal,” kata Musiyanto, Ahad (8/6/2025).
BACA JUGA: Wajah Pelaku Pembuang Sampah di Ring Road Selatan Bantul Akan Disebar di Medsos
Kasus hipertensi di Bumi Handayani ada kenaikan. Kenaikan bisa terlihat sejak 2021 ada sebanyak 6.074 warga yang mengidap penyakit ini.
Setahun berikutnya ada kenaikan signifikan karena tercatat ada 10.155 warga menderita hipertensi. Di 2023, sempat turun dengan jumlah 9.752 kasus, tapi tahun lalu kembali meningkat menembus 11.456 penderita.
Untuk 2025, juga ada kecenderungan kenaikan kasus. Pasalnya, hingga akhir Mei sudah tercatat ada 7.466 warga mengindap penyakit darah tinggi. “Memang ada kencederungan angka kasus hipertensi di Gunungkidul meningkat di setiap tahunnya,” ungkapnya.
Menurut Musiyanto terus ada upaya pencegahan agar penyakit ini tidak menyebabkan hal yang fatal. Selain terus mengkampanyekan gerakan hidup sehat di Masyarakat, juga dilakukan kebijakan mewajibkan penderitan untuk cek kesehatan minimal satu bulan sekali.
Hal ini dikarenakan hipertensi tidak bisa disembuhkan sehingga harus ditangani atau diobati secara berkala. “Makanya diminta untuk periksa minimal sebulan sekali dan bagi pemegang BPJS Kesehatan layanan diberikan secara gratis,” katanya.
Disinggung mengenai penyebab hipertensi, ia tidak menampik pola hidup memberikan pengaruh yang besar. Konsumsi makanan seperti junk food dan lainnya bisa memicu terjangkit hipertensi.
Selain itu, faktor genetik atau keturunan juga menjadi salah satu penyumbang kasus karena anak yang orang tuanya memiliki riwayat hipertensi, maka berpotensi besar mengalami hal yang sama. “Meman gada faktor genetik karena hipertensi bisa diturunkan dari orang tua kea nak,” katanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sidig Hery Sukoco mengatakan, terus melakukan sosialisasi terhadap pencegahan penyakit di masyarakat. Salah satunya melalui Gerakan Kesehatan Masyarakat (Germas) dengan melibatkan kader-kader Kesehatan di Tingkat kalurahan.
“Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat [PHBS] serta rutin berolahraga dan makan-makanan bergizi sangat penting dalam upaya menjaga Kesehatan sehingga tidak mudah terserang penyakit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul menggandeng tim ahli Undip untuk mengkaji sinkhole di Tileng, Girisubo, yang terus melebar di area pertanian warga.
Kinerja perbankan nasional tetap kuat di tengah tekanan global. Kredit tumbuh 9,49% dan bank BUMN jadi penopang utama ekonomi.
Ingin merencanakan kehamilan? Simak faktor penting seperti usia, kesehatan, dan gaya hidup yang memengaruhi kesuburan.
Progres Tol Jogja-Solo Seksi Trihanggo-Junction Sleman capai 85%. Ditargetkan selesai Oktober 2026 dan segera tersambung ke Tol Jogja-Bawen.
Ribuan warga hadir dalam pengajian dan sholawatan HUT ke-110 Sleman. Bupati tekankan pembangunan spiritual dan kebersamaan.
Chelsea resmi menunjuk Xabi Alonso sebagai pelatih baru. Simak profil, kontrak, dan target The Blues di musim mendatang.