Pilur Gunungkidul Diramaikan Wartawan dan MC yang Maju Jadi Lurah
Pilur Gunungkidul 2026 diramaikan bakal calon lurah dari berbagai profesi, mulai wartawan hingga MC, di tengah dominasi petahana.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul terus berupaya agar kasus hipertensi bisa terkendali. Oleh karena itu ada kewajiban bagi penderita untuk memeriksakan diri ke puskesmas minimal satu bulan sekali.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Musiyanto mengatakan, penyakit hipertensi tidak bisa disembuhkan karena upaya penanganan dilakukan agar kasus bisa terkendali sehingga tidak terjadi hal yang fatal. Pasalnya, penyakit darah tinggi ini bisa memicu terjadinya stroke hingga berujung kepada kematian.
“Yang bisa dilakukan agar hipertensi bisa terkendali sehingga tekanan darah bisa stabil di angka normal,” kata Musiyanto, Ahad (8/6/2025).
BACA JUGA: Wajah Pelaku Pembuang Sampah di Ring Road Selatan Bantul Akan Disebar di Medsos
Kasus hipertensi di Bumi Handayani ada kenaikan. Kenaikan bisa terlihat sejak 2021 ada sebanyak 6.074 warga yang mengidap penyakit ini.
Setahun berikutnya ada kenaikan signifikan karena tercatat ada 10.155 warga menderita hipertensi. Di 2023, sempat turun dengan jumlah 9.752 kasus, tapi tahun lalu kembali meningkat menembus 11.456 penderita.
Untuk 2025, juga ada kecenderungan kenaikan kasus. Pasalnya, hingga akhir Mei sudah tercatat ada 7.466 warga mengindap penyakit darah tinggi. “Memang ada kencederungan angka kasus hipertensi di Gunungkidul meningkat di setiap tahunnya,” ungkapnya.
Menurut Musiyanto terus ada upaya pencegahan agar penyakit ini tidak menyebabkan hal yang fatal. Selain terus mengkampanyekan gerakan hidup sehat di Masyarakat, juga dilakukan kebijakan mewajibkan penderitan untuk cek kesehatan minimal satu bulan sekali.
Hal ini dikarenakan hipertensi tidak bisa disembuhkan sehingga harus ditangani atau diobati secara berkala. “Makanya diminta untuk periksa minimal sebulan sekali dan bagi pemegang BPJS Kesehatan layanan diberikan secara gratis,” katanya.
Disinggung mengenai penyebab hipertensi, ia tidak menampik pola hidup memberikan pengaruh yang besar. Konsumsi makanan seperti junk food dan lainnya bisa memicu terjangkit hipertensi.
Selain itu, faktor genetik atau keturunan juga menjadi salah satu penyumbang kasus karena anak yang orang tuanya memiliki riwayat hipertensi, maka berpotensi besar mengalami hal yang sama. “Meman gada faktor genetik karena hipertensi bisa diturunkan dari orang tua kea nak,” katanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sidig Hery Sukoco mengatakan, terus melakukan sosialisasi terhadap pencegahan penyakit di masyarakat. Salah satunya melalui Gerakan Kesehatan Masyarakat (Germas) dengan melibatkan kader-kader Kesehatan di Tingkat kalurahan.
“Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat [PHBS] serta rutin berolahraga dan makan-makanan bergizi sangat penting dalam upaya menjaga Kesehatan sehingga tidak mudah terserang penyakit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Gunungkidul 2026 diramaikan bakal calon lurah dari berbagai profesi, mulai wartawan hingga MC, di tengah dominasi petahana.
Sebanyak 113 SPPG di Bantul telah beroperasi untuk program MBG, sementara 22 unit lainnya masih belum berjalan karena berbagai kendala.
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Polresta Jogja menetapkan lima tersangka baru kasus Little Aresha Daycare. Total tersangka kini mencapai 32 orang dengan 157 anak menjadi korban.
Ekonom menilai penunjukan Destry Damayanti sebagai Pjs. Gubernur BI mampu menjaga kepercayaan pasar selama masa transisi kepemimpinan.
BPBD Sleman mengirim empat tangki air bersih untuk 63 KK di Moyudan yang terdampak gangguan pasokan air selama musim kemarau.