Petani Gunungkidul Dapat Bantuan Program Mina Padi Rp1 Miliar
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Ilustrasi./Reuters-Mike Hutchings
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Fenomena kemarau basah berdampak positif terhadap stok ketersediaan air bersih bagi warga di Bumi Handayani. Pasalnya, hingga saat ini, BPBD Gunungkidul memastikan belum ada permintaan air bersih dari Masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, telah terjadi anomali cuaca karena terjadi fenomena kemarau basah. Meski sudah memasuki musim kering, tapi hujan masih sering ditemukan turun.
Kondisi ini dinilai memberikan dampak yang positif karena belum ada permintaan air bersih dari Masyarakat. Ia tidak menampik, jika di waktu normal, maka saat sekarang sudah ada pengajuan bantuan droping air.
“Berhubung ada fenomena kemarau basah maka stok ketersediaan air di Masyarakat masih banyak karena hujan masih sering turun,” kata Purwono, Rabu (18/6/2025).
BACA JUGA: Ini Susunan Lengkap Komisaris dan Direksi PLN Terbaru
Menurut dia, di minggu-minggu ini juga masih turun hujan walaupun tidak merata. Namun, hal tersebut berpengaruh terhadap stok air bersih sehingga pengajuan belum bantuan belum masuk ke BPBD.
“Masih aman dan ini karena dampak positif dari kemarau basah sehingga di Bulan Juni belum ada permintaan bantuan,” katanya.
Kepala Bidang Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, terus melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dengan perkembangan cuaca dan musim. Musim kemarau di Bumi Handayani sudah terjadi sejak Mei, namun karena ada fenomena kemarau basah maka hujan masih sering turun. Kendati demikian, Sumadi memastikan, BPBD tetap melakukan antisipasi dengan mengalokasikan anggaran untuk droping air bersih sebanyak 1.500 tangki. Pagu ini untuk menyalurkan bantuan kepada Masyarakat yang mengalami krisis air saat kemarau.
“Tentunya bantuan disalurkan saat ada permintaan resmi,” ungkapnya.
Selain alokasi yang dipersiapkan oleh BPBD, ia mengakui sejumlah kapanewon juga memiliki anggaran droping sendiri. Hanya saja, ia belum mengetahui besaran pasti yang dimiliki untuk penyaluran air bersih secara swadaya di kapanewon.
“Nanti saat koordinasi akan diketahui berapa anggaran pastinya. Yang jelas, kalau ada kekurangan kami siap membantunya,” kata Sumadi.
Pihaknya juga tetap mengimbau kepada Masyarakat untuk tetap mewaspadai adanya potensi bencana saat terjadi kemarau basah. Hal ini dikarenakan cuaca ekstrem masih sering mengintai sehingga dapat menimbulkan kerugian material seperti pohon tumbang, rumah ambruk dan lainnya.
“Jadi tetap harus waspada sehingga saat terjadi musibah atau bencana alam, dampaknya dapat ditekan sekecil mungkin,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Gempa DIY membuat perjalanan kereta sempat dihentikan sementara. KAI Daop 6 memastikan seluruh operasional kereta kini kembali normal dan aman.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.