Terungkap! Istri Gorok Leher Suami di Bantul, Dipicu Chat Selingkuh
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Buruh melakukan bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis Indonesia/Rachman
Harianjogja.com, BANTUL — Meski isu beras premium oplosan ramai di sejumlah daerah, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Bantul mengklaim belum menemukan adanya peredaran beras oplosan di wilayahnya. Namun, Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) setempat tetap melakukan pemantauan aktif di pasar-pasar tradisional.
Kepala DKUKMPP Bantul, Prapta Nugraha mengatakan pihaknya melalui tim pengawas tengah melakukan inspeksi di sejumlah pasar sejak awal pekan ini. "Minggu ini tim kami turun ke beberapa pasar untuk mengambil sampel dan memantau kondisi beras di lapangan. Sampai saat ini belum ada laporan temuan beras oplosan," ujarnya, Selasa (15/7/2025).
Menurut Prapta, pengujian terhadap sampel masih berlangsung dan hasilnya akan segera dilaporkan. Ia pun belum bisa menyampaikan secara pasti tindak lanjutnya sebelum ada kepastian dari temuan di lapangan. "Kami baru mulai minggu ini, dan baru dua sampel diambil. Nanti setelah hasil keluar baru bisa kami sampaikan langkah berikutnya," tambahnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli beras, khususnya dengan memilih produk lokal yang dinilai lebih aman dan terjamin mutunya. “Produk beras dari petani Bantul sendiri relatif lebih aman. Harapannya, masyarakat bisa menyerap hasil panen lokal agar lebih terjaga kualitasnya,” ujarnya.
BACA JUGA: Pemkab Bantul Dorong Profesionalisme Koperasi
Sementara, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DKUKMPP Bantul, Zona Paramitha menyebutkan bahwa dari hasil pantauan pihaknya di pasar-pasar tradisional, beras yang beredar saat ini mayoritas berupa beras curah, bukan dalam kemasan premium. Ia belum menerima laporan adanya indikasi beras oplosan di pasaran.
Pemkab Bantul menyatakan akan terus memperkuat pengawasan dan bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengantisipasi peredaran beras oplosan yang bisa merugikan konsumen.
Sebelumnya diberitakan, Sebanyak tujuh perusahan besar diduga melakukan praktik kecurangan dalam menjual beras premium tak sesuai mutu. Perusahaan ini bertindak culas dengan mengoplos beras premium dan medium.
Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri telah memanggil tujuh perusahaan besar yang diduga melakukan kecurangan mutu beras. Adapun, ketujuh perusahaan besar ini memproduksi beras premium dan beras medium.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.