Nelayan Bantul Keluhkan Kapal Besar Masuk Jalur Tangkap
Nelayan Bantul mengeluhkan kapal besar yang diduga memasuki jalur tangkap armada kecil dan mengganggu aktivitas serta hasil melaut.
Impor Ekspor - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, BANTUL – Pelaku usaha ekspor di Bantul menyambut positif kebijakan penurunan tarif impor ke Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Kebijakan ini dinilai menjadi angin segar setelah sebelumnya beban pajak yang tinggi sempat menjadi ganjalan utama dalam kegiatan ekspor.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan DKUKMPP Bantul, Tutik Lestariningsih mengatakan, tarif sebesar 32% sebelumnya sempat menimbulkan kegelisahan di kalangan eksportir. Tingginya beban pajak membuat ekspor ke AS menjadi tidak kompetitif.
BACA JUGA: Donald Trump Tetapkan Tarif untuk Indonesia 32 Persen, OJK Sebut Dampaknya Masih Terbatas
“Ketika tarif menjadi 32 persen itu memang jadi salah satu permasalahan besar bagi pelaku usaha ekspor kami. Namun dengan penurunan jadi 19 persen, ini bisa membuka kembali peluang pasar ke Amerika,” ujarnya, Kamis (17/7/2025).
Meski begitu, pihak DKUKMPP Bantul masih menunggu arahan teknis dari pemerintah provinsi dan pusat. “Data ekspor kami berdasarkan SKA (Surat Keterangan Asal) yang dikeluarkan oleh provinsi. Jadi kami belum bisa langsung memantau efeknya. Tapi harapan ke depan, ekspor ke AS bisa meningkat lagi,” kata Tutik.
Ia juga menyebutkan bahwa saat tarif 32% diberlakukan, DKUKMPP telah mengadakan FGD (Forum Group Discussion) dengan pelaku ekspor dan pihak provinsi untuk membahas dampaknya serta strategi menghadapi situasi perang dagang, terutama dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.
Sementara, Kepala DKUKMPP Bantul, Prapta Nugraha menambahkan, sebagai instansi daerah, mereka masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari pemerintah provinsi dan pusat. “Biasanya kami di daerah hanya akan melaksanakan kebijakan yang sudah diputuskan di tingkat atas,” jelasnya.
Adapun data ekspor Bantul ke Amerika Serikat selama Januari hingga Juni 2025 menunjukkan angka yang cukup signifikan. Total volume ekspor mencapai 2.518.885,37 kg dengan nilai mencapai USD 8.524.955,73.
Pada Januari: 525.848,64 kg senilai USD 2.052.913,69; Februari: 296.907,82 kg senilai USD 1.138.664,04; Maret: 531.245,99 kg senilai USD 1.729.649,44; April: 337.663,69 kg senilai USD 1.076.059,44; Mei: 369.438,81 kg senilai USD 1.116.710,47 dan Juni: 457.780,42 kg senilai USD 1.410.958,65.
Dengan tren nilai ekspor yang masih fluktuatif, penurunan tarif impor ini diharapkan bisa memberikan dorongan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor ke pasar Amerika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Bantul mengeluhkan kapal besar yang diduga memasuki jalur tangkap armada kecil dan mengganggu aktivitas serta hasil melaut.
Inflasi Gunungkidul pada Oktober 2026 mencapai 3,12%, tertinggi di DIY dan mulai mendekati batas toleransi pemerintah sebesar 3,5%.
Disperindag DIY menggelar pasar murah di tiga lokasi Kulonprogo pada 3–5 November 2026 dengan total distribusi 14 ton bahan pokok.
Ombudsman RI meminta Polri mengevaluasi penggeledahan pesantren putri di Sukoharjo dan memastikan perlindungan HAM bagi santriwati.
Lama tinggal wisman di DIY pada triwulan III 2026 hampir 3 hari. Belanja wisman di Indonesia juga naik 6,96% secara kuartalan.
NTSB menyelidiki kecelakaan Learjet 60 di Florida yang menewaskan sembilan orang. Seluruh identitas korban telah diketahui.