Kasus Dugaan Pelecehan Anak Berlanjut, Warga Kawal Persidangan
Sidang dugaan pelecehan seksual terhadap anak di Bantul memasuki pemeriksaan saksi. Massa mengawal persidangan dan meminta proses hukum berjalan adil.
Alat berat meratakan tanah di proyek perluasan dan pembangunan hanggar ITF Niten, Senin (16/6/2025). Setelah ditolak warga, pembangunan hanggar dilanjutkan setelah Pemkab menjamin tak ada penambahan kapasitas pengolahan sampah.- Harian Jogja/Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL— Pembangunan hanggar tambahan Intermediate Treatment Facility (ITF) Pasar Niten sudah memasuki tahap akhir.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul menyebut progres pengerjaannya mencapai 98 persen dan kini dalam proses penyelesaian detail akhir.
Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Bantul, Rudy Suharta, mengatakan dirinya baru-baru ini meninjau lokasi pembangunan.
BACA JUGA: Pemkab Bantul Perketat Pengawasan Pengolahan Sampah Ilegal
“Beberapa waktu lalu saya ke sana, di sana sedang menyelesaikan perataan paving block. Jadi, lantainya pakai paving block dan sedang diratakan menggunakan alat,” ucapnya, Rabu (10/9/2025).
Apabila seluruh pengerjaan rampung, hasilnya akan segera dilaporkan kepada Bupati Bantul. Selanjutnya, pemanfaatan hanggar baru tersebut akan menunggu arahan langsung dari Bupati.
Posisi hanggar tambahan ini berada tepat di sisi ITF Pasar Niten yang sudah beroperasi sejak Februari 2024.
Rudy menjelaskan, saat ini ITF Pasar Niten masih melayani pengolahan sampah dari pasar. Setiap hari, sekitar 700 kilogram sampah masuk ke fasilitas ini.
“Itu hanya untuk mengolah sampah pasar saja,” katanya. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen merupakan sampah organik, sedangkan sisanya nonorganik.
Dalam praktiknya, petugas pengolahan sempat menghadapi kendala ketika harus menangani sampah keranjang ikan bandeng yang banyak ditemukan di pasar.
“Itu ada, di pasar kan banyak. Nah, itu paling sulit diolah. Jadi biasanya itu dibakar di insinerator di tempat pengolahan sampah yang ada di Modalan,” jelas Rudy.
Adapun sampah nonorganik yang masih bernilai jual dipisahkan untuk didaur ulang. Hal ini dimungkinkan karena ITF Pasar Niten sudah berstatus sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“ITF Niten kan UPT sudah BLUD, jadi dia menjual hasil pilahan itu tidak masalah. Jadi masuk ke penerimaan lain-lain. Ada pemasukan sedikit untuk menambah biaya operasional,” jelasnya.
Sebelumnya, Pemkab Bantul memutuskan membangun hanggar tambahan di ITF Pasar Niten guna menata pengolahan sampah agar lebih baik.
Langkah ini diambil setelah pada tahun lalu sebagian sampah di fasilitas tersebut sempat terpapar hujan sehingga menimbulkan lindi yang mengganggu warga sekitar.
Pembangunan hanggar yang menelan biaya sekitar Rp3 miliar dari APBD Bantul itu diyakini mampu mengatasi persoalan tersebut. Dengan adanya fasilitas baru ini, pengelolaan sampah di ITF Pasar Niten diharapkan semakin tertata dan tidak lagi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sidang dugaan pelecehan seksual terhadap anak di Bantul memasuki pemeriksaan saksi. Massa mengawal persidangan dan meminta proses hukum berjalan adil.
PSIM Jogja menyiapkan 6-7 laga uji coba sepanjang Agustus 2026 untuk mematangkan tim menghadapi Super League 2026/2027. Seluruh laga direncanakan digelar di Jog
Sudaryono yang dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional tercatat memiliki aset Rp69,33 miliar dan utang Rp60,47 miliar. Berikut rincian lengkap harta kekayaannya.
Meta menguji StoryKit, aplikasi AI yang mampu membuat dongeng anak otomatis hanya dari foto, karakter, dan pesan moral. Inovatif, namun memicu perdebatan soal k
Kantor Cabang Koordinator Bank Jateng Purwokerto mendorong generasi muda di wilayah Banyumas Raya untuk memiliki visi yang visioner dan jauh ke depan
Harga durian Vietnam kembali naik setelah ekspor ke China meningkat. Kebijakan baru bea cukai mempercepat pengiriman dan mendorong permintaan durian premium.