Maggot Masayu di Bantul Ubah Sisa Dapur Jadi Kas Warga
Warga Kembangputihan, Bantul, mengolah sisa dapur menjadi pakan maggot. Hasil penjualan maggot dimasukkan ke kas untuk kegiatan warga.
Ilustrasi banjir. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL - Sejumlah wilayah di Bantul masuk zona merah rawan longsor dan banjir berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Merespon hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul mulai bersiap menghadapi musim penghujan dengan sejumlah langkah antisipasi banjir.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta mengatakan pihaknya sudah menginstruksikan BPBD untuk segera melakukan pemetaan sungai yang rutin meluap saat musim hujan.
“BPBD akan segera kita perintahkan untuk memetakan sungai-sungai mana yang rutin banjir di musim hujan ini, dan mereka juga sudah bersiap menghadapi kondisi itu. Salah satunya dengan melakukan pengerukan di sungai-sungai tertentu yang selama ini berpotensi banjir,” ujarnya Jumat (12/9).
Selain pengerukan, Pemkab juga meminta BPBD menelusuri aliran sungai hingga ke arah utara untuk mengidentifikasi titik hambatan air. Hal ini penting karena posisi Bantul berada di ujung selatan, sehingga aliran air dari wilayah Yogyakarta bermuara ke Bantul.
“Sepanjang sungai akan kita cek, kalau ada belokan atau penghalang yang bisa menahan aliran air, saya sudah minta BPBD untuk membersihkannya,” kata Aris.
Ia menegaskan kesiapan ini dilakukan karena Bantul masuk zona merah rawan bencana. Pemkab tidak ingin lengah jika hujan deras turun secara intens.
“Harapan kami, saat hujan turun, kita sudah siap menghadapi apabila terjadi banjir di Kabupaten Bantul. Terutama di wilayah Imogiri yang rutin menjadi agenda banjir,” jelasnya.
BACA JUGA: Bupati Larang Pejabat di Bantul Flexing
Imogiri disebut sebagai daerah yang mendapat perhatian khusus karena dalam beberapa tahun terakhir kerap dilanda banjir, termasuk di 2024 dan 2025. Menurut Aris, beberapa titik yang sempat terdampak banjir sudah diperbaiki, termasuk di wilayah Bangketan.
Ia menambahkan, BPBD Bantul juga akan memperbarui peta rawan bencana tanpa menghapus catatan lokasi banjir yang sudah ada sebelumnya.
“Kita memetakan kembali, karena ada tambahan lokasi baru yang perlu diwaspadai,” katanya.
Selain itu, Pemkab Bantul juga akan mengerahkan relawan hingga tingkat dusun dan kalurahan melalui program EPRB (Edukasi Penanggulangan Risiko Bencana).
“Melalui BPBD nanti, relawan-relawan tingkat dusun hingga kalurahan akan kita siapkan, agar penanganan bencana bisa lebih cepat dan terkoordinasi,” ujar Aris.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Kembangputihan, Bantul, mengolah sisa dapur menjadi pakan maggot. Hasil penjualan maggot dimasukkan ke kas untuk kegiatan warga.
Penyintas KDRT di Salatiga memilih bercerai demi anak setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kini bekerja di luar negeri.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Cidro Asmoro tayang 8 Oktober di bioskop. Film ini membawa konsep Jawanisasi Modern dengan musik, drama dan komedi.
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut aturan impor KRL merupakan kewenangan Kemendag dan KAI belum mengajukan usulan resmi.
WIG 2026 resmi dibuka di Solo. Solo dan Jogja menjadi pusat rangkaian untuk membawa gastronomi Indonesia menuju pengakuan global.