Produk Lokal Kuasai 55 Persen Katalog Sociolla hingga Juni 2026
Produk kecantikan lokal menguasai 55% katalog Sociolla hingga Juni 2026, dengan lebih dari 180 brand dan 6.000 SKU aktif.
Arsip - Wisatawan sedang menikmati pemandangan Pantai Kukup, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Kamis (26/12/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Gunungkidul tahun 2025 disnyalir bakal menurun dibanding tahun sebelumnya. Hingga September 2025, capaian PAD wisata baru menembus angka Rp20 miliar dari target Rp33,5 miliar, padahal pada 2024 lalu realisasi PAD wisata berhasil melampaui target yang mencapai Rp33,1 miliar dari target Rp29 miliar.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Gunungkidul, Supriyanta menjelaskan ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab turunnya capaian PAD wisata tahun ini. Salah satunya adalah kebijakan larangan kegiatan karyawisata atau study tour di beberapa daerah yang berdampak langsung pada kunjungan wisata ke wilayah itu.
“Larangan study tour itu dampaknya cukup besar terhadap pergerakan wisatawan terutama dari rombongan pelajar,” ujar Supriyanta, Senin (20/10/2025).
Terkait rencana tahun depan, pihaknya bersama DPRD Gunungkidul masih membahas target PAD wisata 2026, yang hingga kini belum ditetapkan secara. Dalam rapat kerja terakhir bersama Komisi B DPRD, muncul dua wacana yakni DPRD mengusulkan target Rp40 miliar, sementara Dinas Pariwisata mengajukan Rp35 miliar.
“Pertimbangan kami mengusulkan Rp35 miliar karena realisasi PAD hingga September baru Rp20 miliar. Selain itu, belum ada destinasi baru yang signifikan, sementara wisatawan sekarang cenderung mencari hal yang baru,” jelas Supriyanta.
Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini juga menyoroti tren penurunan kunjungan wisata di sejumlah destinasi unggulan yang berdampak langsung terhadap penurunan PAD dari sektor retribusi wisata. “Sektor pariwisata selama ini menjadi salah satu tumpuan utama pendapatan daerah, sehingga ketika kunjungan lesu, otomatis target retribusi ikut tertekan,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang memengaruhi fenomena tersebut mulai dari larangan study tour, daya tarik destinasi yang mulai monoton, hingga pergeseran tren wisata masyarakat ke arah wisata buatan atau tematik. “Gunungkidul ini punya potensi luar biasa, tapi harus diakui, inovasi pengelolaan destinasi masih kurang agresif. Banyak objek wisata yang cenderung stagnan, padahal wisatawan sekarang mencari pengalaman baru, bukan sekadar pemandangan,” lanjut Endah.
Sebagai langkah perbaikan, DPRD merekomendasikan eksekutif agar melakukan rebranding destinasi dan memperkuat sinergi dengan pelaku wisata lokal, termasuk pengelola desa wisata. Selain itu, ia menilai pentingnya penerapan sistem digital dalam pengelolaan tiket dan promosi terpadu. “Ke depan, Pemkab perlu mendorong inovasi promosi berbasis digital, menghidupkan event-event unggulan di tiap kawasan, serta menata ulang sistem retribusi agar lebih efisien dan transparan. Jangan hanya mengandalkan kunjungan di musim libur panjang,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Produk kecantikan lokal menguasai 55% katalog Sociolla hingga Juni 2026, dengan lebih dari 180 brand dan 6.000 SKU aktif.
Simak alasan teknis mengapa interval ganti oli mobil Eropa bisa mencapai 24.000 km, mulai dari presisi mesin hingga standar oli low-SAPS.
iOS 27 beta 5 mengungkap enam iPhone baru yang belum diumumkan Apple, termasuk iPhone Ultra yang disebut sebagai ponsel lipat pertama.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Kamis 13 Agustus 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru dari 0,5 gram hingga 1.00
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.