Kasus Kekerasan Anak di Gunungkidul Capai 50 hingga Juli
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Pekerja mengangkut pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia - ist/Antara/PT Pupuk Indonesia
Harianjoja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Pusat menurunkan harga jual pupuk bersubsidi di pasaran. Kebijakan ini disambut baik petani Gunungkidul, tetapi upaya pengawasan harus lebih diperketat agar alokasi dapat tepat sasaran.
Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts/SR.310/M/10/2025. Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul, Rismiyadi, mengatakan sudah menerima surat keputusan tentang penurunan harga jual pupuk bersubsidi kepada petani. Kebijakan ini merupakan kabar baik bagi para petani agar segera menebus kuota pupuk yang dimiliki.
"Dengan turunnya harga jual, maka akses ke petani jadi lebih terjangkau lagi," kata Rismiyadi kepada wartawan, Kamis (23/10/2025).
Adanya penurunan ini membuat harga jual pupuk urea subsidi turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram. Hal sama juga berlaku untuk jenis NPK atau Phonska yang turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram, dan pupuk organik dari Rp800 menjadi Rp640 per kilogram.
Diharapkan dengan kebijakan harga pupuk bersubsidi turun, maka dapat mengoptimalkan penyerapan di kalangan petani. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya meningkatkan pengawasan agar penyaluran dapat terus tepat sasaran dan tidak ada penyelewengan.
Salah satu langkah yang dilakukan dengan menginstruksikan kepada petugas lapangan untuk mengawasi proses distribusi. Selain untuk memastikan penyaluran tepat sasaran, juga bertujuan agar tidak ada kelangkaan di pasaran.
"Kami berkomitmen untuk pengawasan. Kami juga mengingatkan kepada petani agar tidak menimbun atau memperjualbelikan pupuk yang menjadi jatahnya karena kuota diberikan sebagai upaya mendukung dalam pemeliharaan tanaman yang ditanam," katanya.
Ketua Kelompok Tani Timbul Karya di Padukuhan Polaman, Pampang, Paliyan, Adi Sumartono, mengatakan sudah mendapatkan sosialisasi berkaitan dengan turunnya harga pupuk bersubsidi di pasaran. Ia menyambut baik kebijakan tersebut karena bisa sangat membantu masyarakat, terutama para petani untuk mendapatkan pupuk dalam bercocok tanam.
"Harganya turun. Namun, harapannya tidak ada kelangkaan di pasaran. Kami ingin pupuk subsidi mudah didapatkan dengan harga yang terjangkau," katanya.
Dia berharap kebijakan Presiden Prabowo terkait subsidi pupuk dapat terus dijaga agar harga tetap stabil. Hal ini juga bertujuan agar petani tidak terbebani dalam menebus pupuk.
"Sebelumnya turun, harga pupuk urea lebih dari Rp100.000 per sak, tapi sekarang hanya di kisaran Rp90.000," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.
Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo Boyolali menyebabkan 10 ton ikan mati dan kerugian petani KJA mencapai Rp247 juta.