31 Dispensasi Nikah di Jogja Jadi Dasar Lahirnya Program MALIKA
Pemkot Jogja menyiapkan program MALIKA setelah 31 dispensasi nikah diajukan pada 2024 untuk mendampingi keluarga muda dan menekan berbagai risiko.
DPRD DIY - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA—Komisi A DPRD DIY meminta Pemda segera membangun museum dan monumen perjuangan yang lebih lengkap untuk memperkuat literasi sejarah berbasis Jogja.
Dorongan ini disampaikan setelah anggota Komisi A melakukan kunjungan kerja ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/12/2025).
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menilai pengalaman wisata sejarah di Bandung memberikan inspirasi berharga bagi Yogyakarta. Menurutnya, Gedung Merdeka yang dikelola bersama Pemda Jawa Barat dan Kementerian Luar Negeri itu menyimpan tiga nilai penting, yakni sejarah, penelitian akademik, dan destinasi wisata.
"Yang sangat menarik adalah bahwa ada wisata sejarah di mana kita bisa kembali ke tahun 1955. Dan penting bagi Jogja adalah inspirasi dari Jawa Barat ini," ujar Eko di sela-sela kunjungan, Jumat (12/12/2025).
Eko menekankan bahwa DIY memiliki sejarah perjuangan nasional yang tak kalah penting. Hal ini dimulai dari peran Yogyakarta sebagai Ibu Kota sementara Republik Indonesia, hingga deklarasi bersejarah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menyatakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bergabung dengan Republik Indonesia.
"Maka harapan kita Pemda DIY ini juga lekas lari cepat untuk membangun monumen-monumen, museum-museum dari sisi yang kejuangan. Jadi di Jogja kan ada yang sangat hebat namanya pindah Ibu Kota dari Jakarta ke Jogja ya," tambahnya.
Menurut Eko, pembangunan museum sangat penting sebagai sarana penelitian yang dapat melahirkan generasi emas, sekaligus menjadi tempat edukasi publik. Ia juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam pencatatan sejarah agar fakta tidak dimanipulasi atau dikuasai hegemoni tertentu.
Eko menilai bahwa literasi sejarah di DIY masih perlu diperkuat, termasuk akses sekolah terhadap buku, riset, film, dan materi sejarah lain. Ia menilai kendala utama Pemda saat ini adalah kurangnya fokus terhadap pengembangan literasi sejarah.
"Kalau saya melihat, Pemda belum memperhatikan penuh urusan literasi sejarah. Jadi masih mikir program-program lain misalnya. Jadi itu saya kira kendalanya pada fokusnya," jelas Eko.
Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Hifni Muhammad Nasikh, turut menekankan peran museum dalam mengenalkan sejarah bangsa kepada generasi muda. Ia berharap museum di Yogyakarta dapat dilengkapi dengan perangkat digital agar masyarakat luas dapat lebih mudah mengakses dan mempelajari sejarah.
"Jadi salah satu cara untuk kita bisa mengajari tentang sejarah bangsa adalah museum. Museum yang proper, museum yang lengkap, museum yang bisa diakses oleh semua orang," ujar Hifni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Jogja menyiapkan program MALIKA setelah 31 dispensasi nikah diajukan pada 2024 untuk mendampingi keluarga muda dan menekan berbagai risiko.
KPK menggeledah Kanwil Pajak Surakarta dan sejumlah lokasi di empat daerah terkait kasus pajak Banjarmasin. Emas 1,3 kg turut disita.
Gelombang tinggi kembali menyumbat aliran air di Sanden dan Kretek, Bantul. Sekitar 55 hektare lahan pertanian kembali tergenang.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan pemilik 98 kg sabu di Kampung Bahari. Sejumlah aset dan barang bukti turut disita.
AIcosystem Buka Cara Baru dalam Mengelola Pengalaman Pelanggan hingga Pengembangan Asisten Virtual
Wacana pembatasan BBM subsidi menyasar desil 9-10. Simak cara cek desil DTSEN melalui situs Cek Bansos Kemensos dengan NIK.