Gunungkidul Anggarkan Rp3,39 Miliar untuk 180 Lampu Penerangan Jalan
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp3,39 miliar untuk memasang 180 lampu jalan pada 2026. Sebanyak 125 unit ditargetkan rampung November.
Ilustrasi./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul berencana melakukan normalisasi Luweng Gabluk di Kalurahan Kenteng, Ponjong. Pagu anggaran yang disiapkan sebesar Rp175 juta.
Kepala Bidang Sumber Daya Air, DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono mengatakan, gerakan normalisasi luweng mulai digalakkan di Bumi Handayani. Langkah ini sebagai upaya untuk mengurangi risiko banjir karena fungsi dari luweng sebagai akses penyerapan air agar tidak terjadi genangan.
Menurut dia, di 2025 ada dua luweng yang dinormalisasi. Yakni Luweng Gunung Ringin di Kalurahan Pacarejo dan Luweng Bintaos di Pasar Bintaos, Sidoharjo, Tepus.
Rencananya, program normalisasi dilanjutkan tahun ini. Adapun yang akan dikerjakan adalah Luweng Gabluk di Kalurahan Kenteng, Ponjong.
“Luweng ini sudah terjadi sedimentasi dan tersumbat oleh tumpukan sampah sehingga menimbulkan genangan air di permukiman warga saat terjadi hujan deras,” kata Sigit, Kamis (8/1/2026).
Guna menyukseskan program normalisasi Luweng Gabluk sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp175 juta. Pagu ini juga sudah dituangkan dalam kegiatan di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2026.
“Mudah-mudahan program bisa berjalan dengan lancar,” katanya.
Sigit menambahkan, program normalisasi luweng dilakukan sebagai upaya pencegahan banjir di sekitar lokasi. Diharapkan dengan pengerukan maka aliran dapat lebih lancar sehingga tidak menyebabkan timbulnya genangan yang berpotensi menjadi banjir.
“Teknisnya nanti sedimentasi di mulut luweng dikeruk dan dibuatkan saluran agar aliran masuk lebih lancar,” katanya.
Kepala DPUPRKP Gunungkidul, Rakhmadian Wijayantoo mengatakan, dampak bencana hidrometeorologi harus diwaspadai karena bisa memicu terjadinya banjir. Oleh karena itu, dilakukan sejumlah upaya pencegahan agar potensi tersebut bisa ditekan sekecil mungkin.
Ia mencontohkan, tahun lalu ada program mengurangi risiko banjir dengan normalisasi luweng dan pengerukan aliran sungai.
Pengerukan ini salah satunya dilaksanakan untuk mengurangi sedimentasi di aliran sungai di kawasan perkotaan. “Sungai yang dikeruk ada di wilayah Wonosari seperti di Gadungsari hingga di Padukuhan Trimulyo, Kepek. Sudah ada pendangkalan sehingga butuh normalisasi dengan pengerukan agar aliran menjadi lancar,” katanya.
Program normalisasi sungai tidak hanya melalui pengerukan sedimentasi bantara, namun juga ada pembuatan talut. Talut dibuat sebagai upaya menjaga aliran tetap lancar sehingga tidak menimbulkan luapan.
“Kami ikut berupaya agar tidak terjadi banjir sehingga sejumlah program terus dijalankan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp3,39 miliar untuk memasang 180 lampu jalan pada 2026. Sebanyak 125 unit ditargetkan rampung November.
TPST Donokerto di Sleman diverifikasi tim juri nasional setelah masuk enam besar seleksi penghargaan Hari Habitat Dunia berkat pengelolaan sampahnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo 27 Oktober 2026 tersedia dalam 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif tiket Rp8.000.
Eatsambel memperluas distribusi ke 41 jaringan ritel modern di Jabodetabek dan menargetkan pertumbuhan bisnis 200% pada 2027.
Dinkominfo Kabupaten Pekalongan studi banding ke Bantul untuk mempelajari Satu Data Indonesia, statistik sektoral, geospasial, dan keamanan informasi.
Operasi Patuh Progo 2026 di Gunungkidul berlangsung 26 Oktober–8 November. Simak delapan sasaran penindakan dan pembagian sanksi pelanggaran.