Gunungkidul Genjot Aksi Bergizi, Targetkan Generasi Bebas Stunting

Yosef Leon
Yosef Leon Jum'at, 29 Mei 2026 11:37 WIB
Gunungkidul Genjot Aksi Bergizi, Targetkan Generasi Bebas Stunting

Pelatihan dan pembekalan kepada siswa siswi SMKN 1 Saptosari yang dilakukan oleh HARPER Malioboro Yogyakarta /Ist

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat strategi jangka panjang dalam menekan angka stunting dengan menyasar kelompok usia remaja, khususnya pelajar putri. Melalui program Gerakan Serentak Aksi Bergizi, intervensi kesehatan kini difokuskan sejak bangku sekolah untuk membangun generasi yang lebih sehat dan produktif.

Langkah ini dinilai krusial karena anemia pada remaja sering kali menjadi pintu awal munculnya masalah gizi kronis yang berdampak hingga masa depan, termasuk saat memasuki usia kehamilan.

Remaja Putri Jadi Kunci Pencegahan Stunting

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menjelaskan bahwa remaja putri merupakan kelompok paling rentan mengalami kekurangan zat besi. Kondisi tersebut berisiko menurunkan konsentrasi belajar hingga prestasi akademik di sekolah.

“Anemia dapat menurunkan konsentrasi belajar dan prestasi di sekolah, terutama pada remaja putri,” ujarnya, Kamis (28/5/2026)

Menurutnya, jika tidak ditangani sejak dini, anemia pada remaja bisa berdampak berantai hingga meningkatkan risiko stunting pada generasi berikutnya.

Empat Pilar Aksi Bergizi di Sekolah

Program Aksi Bergizi dirancang dengan pendekatan menyeluruh yang melibatkan kebiasaan harian siswa di sekolah. Ada empat pilar utama yang diterapkan, yakni Sarapan bersama dengan menu gizi seimbang.

Selanjutnya, Konsumsi tablet tambah darah (TTD) seminggu sekali, Aktivitas fisik secara rutin dan Edukasi gizi melalui konsep Isi Piringku.

Kombinasi program ini diharapkan mampu membentuk pola hidup sehat yang berkelanjutan di kalangan pelajar.

Dampak Nyata: Angka Stunting Terus Turun

Upaya yang dilakukan pemerintah daerah mulai menunjukkan hasil positif. Data menunjukkan tren penurunan angka stunting di Gunungkidul dalam beberapa tahun terakhir di mana pada 2022: 23,5 persen, (2023) 22,2 persen, (2024) 19,7 persen, (2025) 16,62 persen dan Februari 2026 sebesar 15,72 persen (4.453 kasus)

Penurunan ini menjadi indikator bahwa intervensi berbasis edukasi dan pencegahan sejak dini mulai efektif.

Tantangan: Konsistensi dan Perubahan Perilaku

Meski tren menurun, tantangan terbesar tetap pada konsistensi penerapan pola hidup sehat di kalangan remaja. Pemerintah mendorong seluruh sekolah tingkat SMP hingga SMA sederajat untuk rutin melaksanakan program ini setiap pekan.

Selain itu, peran keluarga dan lingkungan juga dinilai penting untuk memperkuat kebiasaan baik yang sudah dibangun di sekolah.

Dorong Cinta Produk Lokal dan Gizi Seimbang

Dinas Kesehatan juga mengajak masyarakat untuk lebih mengutamakan konsumsi bahan pangan lokal sebagai bagian dari pola makan sehat.

Dengan kombinasi edukasi, intervensi gizi, dan perubahan perilaku, Gunungkidul optimistis dapat mempertahankan tren penurunan stunting sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.

Program ini bukan hanya soal kesehatan hari ini, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di Jogja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online