Peserta Kecewa, Lomba Menyanyi Manunggal Fair Kulonprogo Batal Digelar
Lomba menyanyi Manunggal Fair Kulonprogo batal mendadak. Peserta kecewa karena sudah datang dan menyiapkan penampilan.
Ilustrasi industri farmasi./Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO — Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Sentolo di Kabupaten Kulonprogo terus menunjukkan geliat pertumbuhan meski statusnya masih dalam proses menuju kawasan industri (KI) resmi. Sejumlah perusahaan dari berbagai sektor mulai berdiri dan beroperasi di wilayah tersebut.
Beberapa sektor yang kini muncul di KPI Sentolo di antaranya industri farmasi, kosmetik, hingga peralatan listrik. Kehadiran pelaku usaha ini menandai meningkatnya minat investasi di kawasan yang telah dialokasikan khusus untuk kegiatan industri dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kulonprogo, Sarji, menjelaskan KPI merupakan zona lahan yang memang disiapkan untuk aktivitas industri.
“Perkembangannya beragam. Ada perusahaan yang sudah operasional, ada yang masih dalam tahap konstruksi dan pengembangan, serta ada pula yang baru melakukan pematangan lahan,” ujar Sarji saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2026).
Ia menyebutkan nilai investasi yang masuk ke kawasan Sentolo sepanjang 2025 tercatat sekitar Rp5 miliar. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring berjalannya proses pembangunan sejumlah perusahaan baru.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kulonprogo, Iffah Mufidati, mengungkapkan luas KPI Sentolo mencapai sekitar 4.796 hektare yang mencakup seluruh wilayah kalurahan di kapanewon tersebut.
Menurutnya, pengembangan industri di Kulonprogo tidak terpusat dalam satu kawasan besar saja. Industri kecil dan mikro tersebar di berbagai wilayah, sementara Sentolo menjadi kapanewon dengan jumlah perusahaan terbanyak.
“Di Sentolo terdapat sejumlah perusahaan seperti CV Karya Hidup Sentosa, PT Indoplafon, PT Mentari Niaga, PT Aleyah Sintasint Farma, PT Odixa, PT Belle Amanah Sejahtera, Dian Niaga, PT Jawa Sport Gloves, PT Senkugo, PT Handaru, hingga PT Indobell,” ungkap Iffah.
Ia menambahkan, jumlah perusahaan di Sentolo saat ini menjadi yang paling banyak dibandingkan kapanewon lainnya di Kabupaten Kulonprogo. Kondisi tersebut menunjukkan potensi kawasan ini sebagai pusat pertumbuhan industri baru di wilayah barat DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lomba menyanyi Manunggal Fair Kulonprogo batal mendadak. Peserta kecewa karena sudah datang dan menyiapkan penampilan.
Veda Ega Pratama menempati posisi kedelapan sesi latihan Moto3 Jepang di Sirkuit Motegi dengan catatan waktu 1 menit 55,597 detik.
Kejagung mengungkap dugaan peran Budi Utomo dalam pengadaan motor listrik MBG. Dari rencana 21.000 unit, hanya 2.117 unit terealisasi.
Rocky Gerung menjelaskan alasannya bergabung sebagai Wantimpres Prabowo dan menegaskan sikap kritisnya terhadap arah kebijakan pemerintah.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menggelar Festival Batik 2026 di Jogja City Mall, Jumat (2/10).
Retribusi wisata Pantai Parangtritis dan Pantai Depok mencapai Rp4,95 miliar pada Juli-September 2026, dengan kunjungan tertinggi pada Juli.