Pengadaan Tanah Kas Desa Pengganti di Palihan Diawali dengan Audit
Pemkab Kulonprogo menargetkan pengadaan tanah kas pengganti Kalurahan Palihan rampung Oktober 2026 setelah tim dibentuk dan audit selesai.
Ilustrasi operasi.ist/freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan dengan mengembangkan teknologi operasi minimal invasif atau minim sayatan. Inovasi ini memungkinkan tindakan bedah dilakukan tanpa pembedahan terbuka besar, melainkan melalui alat khusus yang dikendalikan dengan panduan monitor.
Direktur Utama RSUD Wates, Eko Budiyanto, menjelaskan teknologi tersebut memang membutuhkan investasi cukup besar. Namun, manfaat yang dirasakan pasien dinilai jauh lebih signifikan dibandingkan metode konvensional.
“Luka sayatan sangat kecil sehingga rasa nyeri minimal, proses penyembuhan lebih cepat, presisi tindakan lebih tinggi, dan masa rawat inap lebih singkat. Ini tentu lebih efisien bagi pasien maupun keluarga,” ujar Eko kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).
Saat ini, hampir seluruh layanan spesialis di RSUD Wates telah mengadopsi teknologi minimal invasif. Mulai dari bedah umum, ortopedi, urologi, obstetri dan ginekologi (obgyn), hingga spesialis paru telah memanfaatkan metode modern tersebut dalam pelayanan kesehatan.
Eko menambahkan, layanan operasi minim sayatan tersebut sudah sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Dukungan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam memastikan masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan berkualitas tanpa terbebani biaya tinggi.
“Dengan fasilitas minimal invasif yang lengkap, RSUD Wates kini menjadi salah satu rumah sakit rujukan yang mampu bersaing dengan rumah sakit besar lainnya di wilayah Yogyakarta,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kulonprogo Agung Setyawan menegaskan bahwa kemajuan teknologi rumah sakit harus tetap berorientasi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
“Keberhasilan pembangunan kesehatan bukan diukur dari ramainya rumah sakit, tetapi dari semakin sedikitnya warga yang sakit melalui penguatan upaya preventif,” ujarnya.
Agung juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas pelayanan, terutama dalam pemberian obat dan resep kepada pasien. Menurutnya, kepercayaan masyarakat menjadi kunci keberhasilan layanan kesehatan.
“Dengan pelayanan yang profesional dan kredibel, masyarakat akan merasa aman dan nyaman berobat di RSUD Wates,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Kulonprogo menargetkan pengadaan tanah kas pengganti Kalurahan Palihan rampung Oktober 2026 setelah tim dibentuk dan audit selesai.
Polisi masih menyelidiki penyebab meninggalnya taruna Akpol Semarang berinisial AMM yang ditemukan terluka di kompleks pendidikan Akpol.
Dinsos Bantul menargetkan setiap pendamping PKH meluluskan 24 KPM dari bansos pada 2026 untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.
Belanja gaji pegawai Pemkab Sleman 2027 turun menjadi Rp787,97 miliar. BKAD mewaspadai TPP terdampak jika target PAD tidak tercapai.
Pemerintah memastikan pemisahan anggaran BGN dari fungsi pendidikan mulai diterapkan pada penyusunan APBN 2028 sesuai putusan MK.
Balita menjadi kelompok paling rentan TBC di Kota Jogja. Hingga 23 Juli 2026 tercatat 174 anak terdiagnosis tuberkulosis.