KAI Daop 6 Jogja Tutup 38 Perlintasan Liar demi Keselamatan
KAI Daop 6 Jogja menutup 38 perlintasan liar di DIY dan Jawa Tengah demi meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api.
Foto ilustrasi Koperasi Merah Putih dibuat oleh AI ChatGPT
Harianjogja.com, JOGJA—Program Warung Milik Rakyat (Wamira) yang disiapkan Pemkot Jogja memicu kekhawatiran di kalangan pengurus Koperasi Merah Putih Jogja. Mereka menilai, kehadiran Wamira berpotensi memengaruhi laju bisnis koperasi di tingkat kelurahan jika tidak diintegrasikan dalam satu sistem kelembagaan.
Wamira direncanakan hadir di 45 kelurahan di Kota Jogja dan menyasar penguatan usaha rakyat berbasis wilayah. Namun, sejumlah pengurus koperasi meminta agar program tersebut tidak berdiri sebagai entitas baru yang terpisah, melainkan dilekatkan langsung dengan Koperasi Merah Putih yang sudah lebih dulu ada di tiap wilayah.
Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih Demangan, Antonius Fokki Ardiyanto, mengaku khawatir keberadaan Wamira akan menimbulkan tumpang tindih dalam praktik usaha di lapangan.
“Kebijakan tersebut [Wamira] justru berpotensi tumpang tindih, tidak efektif, dan kehilangan arah strategis [dengan Koperasi Merah Putih],” katanya, Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan, hingga kini fasilitasi distribusi sembako dan akses rantai pasok di Koperasi Merah Putih belum terintegrasi secara optimal. Selain itu, penguatan digitalisasi dan pemasaran koperasi juga dinilai masih minim intervensi kebijakan.
Menurut Fokki, dukungan permodalan bagi koperasi di tingkat kelurahan juga masih terbatas. Distribusi sembako dan akses rantai pasok belum terkelola secara terintegrasi, sementara aspek digitalisasi serta pemasaran koperasi belum mendapatkan dukungan kebijakan yang memadai.
“Dalam situasi seperti ini, menghadirkan Wamira sebagai entitas baru justru menimbulkan pertanyaan mendasar mengapa tidak memperkuat yang sudah ada?” katanya.
Ia berpandangan, konsep Wamira seharusnya dilekatkan sebagai gerai sembako di bawah Koperasi Merah Putih agar tidak terjadi duplikasi kelembagaan. Dengan model integratif, distribusi sembako dapat dikelola secara kolektif dan transparan melalui koperasi. Kebijakan daerah, menurutnya, akan lebih selaras dengan strategi nasional ekonomi kerakyatan jika penguatan dilakukan pada lembaga yang sudah berjalan.
Senada dengan itu, Ketua Koperasi Merah Putih Gunungketur, Mohammad Reza Murtaza, juga menyoroti potensi dampak Wamira terhadap penjualan kebutuhan pangan di koperasi.
“Kalau Wamira berdiri sendiri tanpa pembenahan koperasi, kami khawatir teman-teman koperasi yang belum jalan bisa semakin tertinggal,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, koperasi di wilayahnya saat ini masih dalam tahap penguatan modal dan pengembangan unit usaha. Setelah Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2025, koperasi mulai merancang pengembangan usaha sembako dengan fokus pada komoditas beras serta penjajakan kerja sama dengan Perum Bulog.
“Langkah awal kami fokus beras dulu agar tidak mematikan toko-toko kecil. Nanti modelnya berbasis RT, jadi bisa seperti reseller koperasi,” katanya.
Selain mengembangkan unit sembako, koperasi Gunungketur sebelumnya mengandalkan produksi batik untuk ASN Pemkot Jogja sebagai sumber permodalan. Dari pesanan ratusan potong batik sepanjang 2025, koperasi berhasil menghimpun kas sekitar Rp14 juta. Ke depan, koperasi juga membidik peluang penyediaan makanan tambahan (PMT) untuk mendukung program stunting di kelurahan. Reza mengakui, tantangan utama koperasi saat ini masih berkutat pada keterbatasan tempat usaha dan modal operasional.
Sebelumnya, Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menyampaikan bahwa Wamira merupakan strategi Pemkot Jogja untuk membangun jejaring usaha rakyat agar mampu bersaing dengan toko waralaba nasional. Program tersebut ditargetkan meluncur pada April–Mei 2026 dan akan tersebar di 14 kemantren serta 45 kelurahan di Kota Jogja.
Menurut Hasto, konsep Wamira dirancang untuk menjaga perputaran uang masyarakat tetap berada di lingkungannya sendiri atau close loop, sehingga belanja kebutuhan pokok tidak hanya memenuhi kebutuhan harian warga, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Skema ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi kerakyatan di Kota Jogja melalui optimalisasi peran Koperasi Merah Putih Jogja dan jaringan Wamira di tingkat kelurahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KAI Daop 6 Jogja menutup 38 perlintasan liar di DIY dan Jawa Tengah demi meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api.
Ramalan zodiak Kamis 14 Mei 2026 memprediksi banyak hubungan mulai memanas, dari persoalan asmara hingga tekanan pekerjaan.
Daftar lokasi kamera ETLE Jogja 2026 lengkap dengan jenis pelanggaran yang langsung terekam dan cara cek tilang elektronik secara online.
Makna Kenaikan Yesus Kristus 2026 bagi umat Kristiani, mulai dari pengharapan, penyertaan Tuhan, hingga panggilan hidup peduli sesama.
SIM yang habis saat libur 14–15 Mei 2026 di DIY masih bisa diperpanjang tanpa denda pada 16 Mei 2026. Simak syarat lengkapnya.
Daftar 15 lagu rohani Kenaikan Yesus Kristus 2026 yang cocok untuk ibadah gereja, doa keluarga, dan renungan pribadi umat Kristiani.