Pariwisata Hijau Jadi Kunci, Desa Wisata di Bantul Harus Ubah Strategi
Desa wisata didorong beralih ke pariwisata berkelanjutan, tak lagi fokus pada jumlah kunjungan semata.
Musala Adzikri yang roboh akibat tergerus erosi di sungai Oya. Dok Pemkal Sriharjo
Harianjogja.com, BANTUL—Warga di sekitar Musala Adzikri, Padukuhan Wunut, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Bantul, meningkatkan kewaspadaan setelah bangunan musala tersebut ambruk sebagian akibat tanah di bawahnya tergerus erosi Sungai Oya.
Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun Khasanah mengatakan, hingga Kamis (26/2/2026), warga masih terus memantau perkembangan kondisi tanah di sekitar lokasi kejadian.
“Musala itu satu kompleks dengan rumah warga yang memang menginisiasi pendiriannya. Untuk sementara kami minta warga tetap waspada,” ujar Titik.
Warga Gelar Ronda Malam
Sebagai langkah antisipasi, warga RT 04 Padukuhan Wunut menggelar ronda malam atau siskamling secara rutin. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan erosi lanjutan yang dapat mengancam bangunan di sekitarnya.
“Setiap malam warga ronda terus. Kalau situasi memburuk dan dinilai berbahaya, warga diminta segera melapor. Kalau memang harus mengungsi, ya mengungsi,” jelasnya.
Di sekitar lokasi musala terdapat lima rumah warga. Dari jumlah tersebut, dua rumah masih kosong karena merupakan bangunan baru, sementara tiga rumah lainnya sudah dihuni.
“Yang terdampak paling parah memang musalanya. Sekitar sepertiga bangunan sudah ambruk,” kata Titik.
Titik menyebut saat ini pihak kalurahan tengah menyiapkan laporan resmi kepada Bupati Bantul yang ditembuskan ke BPBD Bantul serta instansi terkait lainnya.
“Surat laporan sedang kami proses. Koordinasi dengan BPBD dan dinas terkait juga terus kami lakukan,” ungkapnya.
Sebelumnya, BPBD Bantul telah meninjau lokasi kejadian dan menyalurkan bantuan logistik bagi warga yang berjaga setiap malam. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi warga yang melakukan pemantauan di area rawan.
“Bantuan logistik sudah turun hari ini. Kami terus intens berkomunikasi dengan warga dan kelompok siaga di lokasi,” imbuhnya.
Jika kondisi semakin memburuk dan berpotensi membahayakan keselamatan, warga telah disiapkan skema evakuasi sementara ke rumah-rumah di sisi utara jalan yang dinilai lebih aman.
Retakan Tanah Terus Meluas
Sementara itu, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Sriharjo, Oman, menjelaskan bahwa bangunan musala tidak roboh secara total. Namun, bagian sisi utara mengalami kerusakan cukup parah akibat retakan tanah yang terus melebar.
“Musala roboh saat waktu sahur. Tidak ambruk total, tapi hanya sebagian,” ujar Oman.
Ia mengungkapkan, pada awal musim hujan jarak bangunan musala dengan aliran Sungai Oya masih sekitar 30 meter. Namun sejak pertengahan Februari 2026, retakan tanah mulai muncul akibat derasnya arus sungai yang menggerus bantaran.
“Retakan itu terus bergerak ke arah utara hingga struktur bangunan tidak lagi mampu menahan beban dan akhirnya roboh sebagian,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Desa wisata didorong beralih ke pariwisata berkelanjutan, tak lagi fokus pada jumlah kunjungan semata.
Pasar saham China anjlok 15 persen sepanjang 2026 akibat euforia AI yang meredup. Tencent dan Alibaba turun 29 persen. Cek penyebab dan dampaknya di sini.
Cyberdeck jadi tren Gen Z: komputer rakitan DIY berbasis Raspberry Pi sebagai bentuk ekspresi diri dan teknologi anti seragam.
BPJS Ketenagakerjaan DIY dorong ahli waris mandiri lewat Rekso Waris dan pelatihan bisnis online Shopee.
Kasus malaria impor Sleman 2026 capai 39 kasus, sama seperti 2024, seluruhnya berasal dari luar wilayah.
Yamaha resmi mengakhiri kerja sama dengan Fabio Quartararo dan Alex Rins di MotoGP 2026 sebagai bagian dari perombakan tim.