Layanan PDAM Kota Jogja Masih 30 Persen, Sanitasi Jadi Tantangan
Cakupan layanan PDAM Kota Jogja baru mencapai 30 persen. Air tanah yang masih dianggap baik dan persoalan sanitasi menjadi tantangan.
Pemadam Kebakaran - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Ketersediaan APAR di tingkat RT Kota Jogja masih jauh dari target. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Jogja mencatat baru 210 RT yang memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dari total 2.535 RT yang tersebar di seluruh wilayah kota.
Data tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Jogja, Taokhid. Ia menjelaskan jumlah RT yang telah memiliki APAR tergolong sangat minim dibandingkan kebutuhan riil di lapangan.
Menurutnya, Damkarmat sebelumnya telah menggulirkan program pengadaan APAR untuk setiap RT. Namun, pelaksanaannya belum mampu menjangkau seluruh wilayah karena berbagai keterbatasan. Padahal, keberadaan APAR dinilai krusial sebagai langkah antisipasi dini untuk mencegah meluasnya kebakaran di lingkungan permukiman.
“Untuk itu tahun ini akan ada penambahan APAR pada 350 RT,” katanya, Minggu (1/3/2026).
Meski ada tambahan tersebut, Taokhid mengakui jumlahnya masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh RT di Kota Jogja. Keterbatasan anggaran di lingkungan Pemkot Jogja menjadi salah satu faktor yang menghambat pemerataan fasilitas pemadam api di tingkat wilayah.
Karena itu, pihaknya mendorong partisipasi aktif masyarakat agar tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah. RT dapat mengupayakan pengadaan APAR secara mandiri, baik melalui swadaya warga maupun menjalin kemitraan dengan pelaku usaha di sekitar lingkungan.
“Kami dorong RT untuk mengusahakan secara mandiri, bisa membeli sendiri atau bermitra dengan pelaku usaha setempat. Pemerintah sifatnya memfasilitasi,” katanya.
Selain pengadaan APAR, Damkarmat Kota Jogja juga melanjutkan pembangunan jaringan hidran pada tahun ini sebagai bagian dari sistem penanganan awal kebakaran. Beberapa wilayah telah dipetakan menjadi prioritas pembangunan, dan dokumen Detail Engineering Design (DED) untuk proyek jaringan hidran tersebut telah disiapkan.
Upaya penguatan respons cepat juga dilakukan dengan menyiagakan 750 relawan kebakaran yang bertugas melakukan penanganan pertama saat insiden terjadi. Armada pemadam di Pos Damkarmat Kota Jogja pun tetap disiapkan untuk mendukung respons lapangan.
Di sisi pencegahan, Damkarmat terus meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat melalui berbagai program di tingkat wilayah. Edukasi dilakukan secara berkelanjutan agar warga memahami potensi risiko kebakaran sekaligus langkah penanganan awal sebelum api membesar.
“Program pencegahan seperti penyuluhan, edukasi, sosialisasi, simulasi, hingga konsolidasi dengan para pemangku kepentingan terus diintensifkan untuk membangun ekosistem ketahanan kebakaran,” imbuhnya.
Dengan kombinasi penambahan APAR, pembangunan jaringan hidran, kesiapsiagaan relawan, serta penguatan edukasi masyarakat, Damkarmat Kota Jogja menargetkan peningkatan perlindungan kebakaran di tingkat RT yang selama ini masih belum merata di seluruh wilayah kota.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cakupan layanan PDAM Kota Jogja baru mencapai 30 persen. Air tanah yang masih dianggap baik dan persoalan sanitasi menjadi tantangan.
Jadwal lengkap KRL Jogja-Solo Senin 27 Juli 2026 dengan 15 perjalanan dan tarif tetap Rp8.000 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur.
Imigrasi Manado menunda 24 keberangkatan PMI terindikasi TPPO hingga Juli 2026 sebagai upaya mencegah pekerja migran nonprosedural.
Rusia mengklaim menyerang pusat logistik dan fasilitas produksi drone Ukraina, sementara Iran memprotes serangan Ukraina di Laut Kaspia.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.