Mural Patangpuluhan Jogja Suarakan Isu Lingkungan dan Budaya
Mural di Patangpuluhan Jogja menjadi ruang kreativitas anak muda untuk menyuarakan isu lingkungan, budaya, sosial, hingga ekonomi kreatif.
Pasar Ramadan Kauman
Harianjogja.com, JOGJA—Aktivitas pasar Ramadan di Kota Jogja memicu kenaikan volume sampah harian. Meski demikian, Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja memastikan lonjakan tersebut masih dalam batas terkendali dan tidak menyebabkan penumpukan di depo.
Kepala DLH Kota Jogja, Rajwan Taufiq, menyebut peningkatan sampah selama Ramadan berkisar 5 persen dibanding hari biasa. Secara kuantitas, tambahan volume itu diperkirakan mencapai sekitar satu ton per hari.
“Kalau penambahan memang ada karena pasar-pasar Ramadan dan konsumsi, tapi tidak begitu signifikan. Bisa kita kelola dengan baik,” ujar Rajwan, Minggu (1/3/2026).
Sebaran Merata di Titik Pasar Ramadan
Rajwan menjelaskan, tambahan sampah berasal dari aktivitas pasar takjil dan konsumsi masyarakat. Persebarannya relatif merata di berbagai lokasi penyelenggaraan pasar Ramadan, seperti kawasan Jogokariyan, Kauman, hingga Kotagede.
Jenis sampah yang dihasilkan pun berimbang antara organik dan anorganik. Sampah organik didominasi sisa makanan, sedangkan anorganik berupa kertas pembungkus dan sampah kering lainnya.
Dalam proses penanganan, DLH tetap menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Sampah dari pasar Ramadan dipilah sejak tingkat penggerobak sebelum dibawa ke depo.
“Sampah organik basah ditaruh di ember, organik mentah seperti sisa sayuran dipisahkan, lalu anorganik dibawa ke bank sampah atau pelapak. Residu baru dibawa ke depo,” katanya.
Program Mas Jos dan 14 Depo Kosong
DLH juga mendorong penggunaan wadah makan berulang sebagai bagian dari Program Mas Jos (Masyarakat Jogja Olah Sampah). Inisiatif ini menekankan pengurangan sampah dari sumbernya.
“Dalam Mas Jos disarankan menggunakan wadah berulang. Banyak panitia Ramadan sudah pakai piring dan gelas kaca, ditambah imbauan habiskan makananmu untuk mengurangi sisa,” ujar Rajwan.
Ia menilai kebiasaan pemilahan mandiri oleh masyarakat dan panitia kegiatan sudah terbentuk dengan baik. Hal itu terlihat dari kondisi 14 depo sampah di Kota Jogja yang hampir seluruhnya dalam keadaan kosong.
“Tidak ada perubahan signifikan, karena masyarakat dan panitia sudah terbiasa dengan pengelolaan sampah mandiri dan pemilahan. Efeknya depo-depo tidak penuh,” katanya.
Timbulan Sampah 300 Ton per Hari
Secara umum, total timbulan sampah Kota Jogja mencapai sekitar 300 ton per hari. Rinciannya, sekitar 25 ton sampah organik basah dikirim ke peternak atau untuk pakan maggot, 10 ton sampah mentah dimasukkan ke biopori, 20 ton dikelola melalui bank sampah, dan sekitar 20 ton ranting diolah menjadi kompos.
Sementara itu, sekitar 225 ton sisanya diproses di unit-unit pengolahan sampah milik pemerintah kota.
Dengan skema tersebut, DLH memastikan tambahan sampah selama Ramadan tetap dalam kapasitas pengelolaan yang tersedia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mural di Patangpuluhan Jogja menjadi ruang kreativitas anak muda untuk menyuarakan isu lingkungan, budaya, sosial, hingga ekonomi kreatif.
Dokter Yoga Yuniadi meluruskan anggapan obat hipertensi menyebabkan ginjal rusak dan menjelaskan pentingnya menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Kuota LPG 3 kg 2027 dipangkas menjadi 8 juta ton. Pemerintah menyiapkan CNG, jargas, dan kompor listrik sebagai energi alternatif.
DPRD Kota Jogja mendorong pencegahan korupsi melalui penguatan sistem, tata kelola transparan, akuntabel, dan budaya integritas.
Polri menetapkan 196 tersangka dari 245 laporan karhutla hingga 28 September 2026. Kasus yang melibatkan korporasi juga terus didalami.
Bulog memastikan Beras Kita Premium dapat digunakan untuk kebutuhan MBG sesuai arahan pemerintah, sementara beras fortifikasi bukan pengganti beras premium.