Plataran Senopati Jogja Jadi Foodcourt, Berdayakan Eks Jukir
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Seragam sekolah SD dan SMP - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja kembali menghidupkan program Bule Mengajar sebagai strategi memperkuat sektor pendidikan sekaligus menarik minat pelajar asing datang ke Kota Jogja. Program ini diharapkan menjadi inovasi yang menggabungkan kegiatan belajar dengan potensi wisata pendidikan di kota pelajar tersebut.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengatakan program Bule Mengajar sebelumnya sempat tidak berjalan atau mengalami “mati suri”. Karena itu, pemerintah kota berupaya mengaktifkan kembali program tersebut agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan di Kota Jogja.
“Kalau di bidang pendidikan ini saya mulai menghidupkan lagi program bule mengajar, karena sebelumnya di Jogja sempat mati suri,” katanya, Sabtu (14/3/2026).
Hasto menjelaskan program Bule Mengajar akan kembali diluncurkan secara resmi dalam waktu dekat. Bahkan, ia telah menandatangani sejumlah sertifikat yang akan diberikan kepada peserta asing yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Hari ini saya me-launching program bule mengajar itu. Saya juga sudah menandatangani sertifikat untuk peserta bule mengajar dan mereka terlihat sangat senang mendapat sertifikat tersebut,” katanya.
Menurut Hasto, program Bule Mengajar Jogja berpotensi menjadi daya tarik baru bagi warga negara asing yang ingin terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan di Kota Jogja. Kehadiran mereka di sekolah-sekolah diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa sekaligus memperluas interaksi internasional.
“Harapan saya nanti sekolah yang jumlahnya cukup banyak di Kota Jogja bisa menjadi magnet baru untuk mendatangkan orang asing,” ujarnya.
Ia menambahkan ke depan sekolah-sekolah di Kota Jogja diharapkan menjalin kerja sama dengan pelaku industri pariwisata, seperti agen perjalanan. Melalui kolaborasi tersebut, program Bule Mengajar dapat dipromosikan kepada komunitas internasional yang tertarik datang ke Indonesia.
“Kalau masing-masing sekolah punya komunikasi dengan travel agent di Jogja, nanti program bule mengajar ini bisa punya komunitas di Australia, Jepang, atau negara lain yang banyak warganya datang ke Indonesia,” katanya.
Hasto menilai konsep Bule Mengajar dapat menjadi bentuk destinasi wisata pendidikan yang berbeda dari wisata konvensional yang selama ini dikenal masyarakat. Program ini memungkinkan wisatawan asing tidak hanya berkunjung, tetapi juga terlibat dalam kegiatan edukatif di sekolah-sekolah.
“Mungkin kita belum tentu bisa membuat destinasi wisata baru yang hebat secara fisik, tapi bule mengajar ini bisa menjadi destinasi wisata dalam bentuk lain,” katanya.
Program Bule Mengajar Jogja sebelumnya telah diuji coba melalui kegiatan yang digelar di kawasan Malioboro pada akhir pekan lalu. Dalam kegiatan tersebut, sejumlah warga asing berinteraksi dengan masyarakat sekaligus berbagi pengalaman edukasi.
“Sabtu kemarin sudah dicoba di Malioboro ada kegiatan bule mengajar, tapi nanti akan kita bawa juga ke sekolah-sekolah,” ujarnya.
Melalui pengembangan program Bule Mengajar Jogja, Pemkot Jogja berharap sektor pendidikan dapat menghadirkan perspektif baru dalam mengembangkan potensi kota sebagai pusat pendidikan sekaligus tujuan wisata berbasis edukasi yang menarik bagi komunitas internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.