500 Peserta Adu Kekuatan Tarik Lokomotif 84 Ton di Balai Yasa Jogja
Sebanyak 500 peserta dari 30 tim mengikuti lomba tarik lokomotif 84 ton di Balai Yasa Jogja dalam rangka HUT ke-81 KAI.
Kompleks Makam Kota Gede di Kampung Wisata Purbayan. (Instagram/@kamwispurbayan)
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Pariwisata Kota Jogja terus memperkuat pengembangan kampung wisata dengan melakukan pendampingan intensif di berbagai wilayah. Langkah ini ditujukan agar seluruh kampung wisata siap menyambut lonjakan kunjungan wisatawan pada akhir 2026.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Jogja, M. Zandaru Budi, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 45 kampung wisata yang tersebar di seluruh kota. Namun, tidak semuanya aktif menggelar paket wisata secara rutin.
Dari jumlah tersebut, sekitar 25 merupakan kampung wisata lama, dan hanya 17 yang telah beroperasi aktif. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mempercepat proses pembinaan agar kampung wisata lainnya bisa segera berkembang.
Dorong Naik Kelas Bertahap
Zandaru menjelaskan, pengembangan kampung wisata dilakukan melalui tahapan berjenjang, mulai dari rintisan, berkembang, maju, hingga mandiri. Skema ini disusun agar setiap kampung memiliki arah pengembangan yang jelas.
Sebagai acuan, pemerintah menjadikan Desa Wisata Penglipuran sebagai model pengembangan. Desa tersebut dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia dengan tata kelola yang tertata rapi.
“Kalau kampung wisata di Jogja bisa mencapai 20 hingga 30 persen dari standar Penglipuran, itu sudah sangat baik,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Beberapa kampung wisata di Jogja bahkan telah mencapai kategori maju hingga mandiri, di antaranya kawasan Bendung Lepeh di Rejowinangun, Purbayan, serta Cokrodiningratan.
Fokus pada SDM dan Paket Wisata
Menurut Zandaru, kendala utama yang dihadapi kampung wisata bukan terletak pada minimnya potensi, melainkan pada pengelolaan dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Banyak kampung sebenarnya memiliki aktivitas menarik, namun belum dikemas menjadi paket wisata yang menjual.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinpar menurunkan tenaga ahli guna mendampingi pengelola kampung wisata secara langsung, mulai dari perencanaan hingga pemasaran.
“Kegiatan sebenarnya sudah ada, tapi belum terstruktur. Ini yang kami bantu agar lebih menarik bagi wisatawan,” jelasnya.
Sebar Destinasi, Kurangi Penumpukan
Selain meningkatkan kualitas kampung wisata, pemerintah juga berupaya mendistribusikan arus wisatawan agar tidak terpusat di kawasan populer seperti Malioboro, Tugu Jogja, dan Keraton Yogyakarta.
Sebagai alternatif, sejumlah kawasan lain mulai dipromosikan. Kawasan Kotabaru dikembangkan dengan konsep wisata berbasis arsitektur kolonial Indis dan event kreatif, sementara Kotagede difokuskan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya peninggalan Mataram Islam.
Optimistis Dongkrak Ekonomi Warga
Melalui strategi pendampingan yang berkelanjutan, Dinpar optimistis kampung wisata di Jogja dapat tumbuh lebih merata. Pemerintah berharap, penguatan sektor ini mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.
Dengan semakin banyaknya kampung wisata yang aktif dan terkelola profesional, Jogja diharapkan tidak hanya dikenal melalui destinasi ikoniknya, tetapi juga melalui pengalaman wisata berbasis komunitas yang autentik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 500 peserta dari 30 tim mengikuti lomba tarik lokomotif 84 ton di Balai Yasa Jogja dalam rangka HUT ke-81 KAI.
Dinsos Kulonprogo mengingatkan penerima bansos wajib mendaftar Perlinsos karena aplikasi ini akan menjadi basis data penyaluran bantuan mulai 2027.
Muhammad Qodari membantah sejumlah tudingan terhadap Bakom, termasuk isu Timothy Ivan, rekrutmen PAN, dan anggaran media Rp60 miliar.
Menyusuri kawasan dalam benteng sambil mengayuh sepeda menjadi cara yang dipilih dalam Amazing Race bertajuk “Ngepit Jeron Benteng” pada Jogja World Heritage
Sebanyak 92.055 warga Gunungkidul terdampak kekeringan. Kapanewon Tepus menjadi wilayah terparah dengan 24.875 jiwa mengalami krisis air.
Disdag Jogja menggelar Gemati di 22 pasar selama Oktober 2026. Belanja minimal Rp20.000 berpeluang mendapat smartphone hingga sepeda.