Sampah Visual di Jogja Harus Ditertibkan, Jangan Tunggu Laporan Warga
Penataan sampah visual di Jogja diminta dilakukan berkelanjutan. Sumbo Tinarbuko meminta penertiban reklame liar tak menunggu aduan warga.
Tugu Jogja./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA — Penurunan lama tinggal wisatawan atau length of stay (LoS) di Kota Jogja menjadi sorotan serius kalangan legislatif. DPRD Kota Jogja mendesak pemerintah kota segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pengembangan pariwisata.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Jogja, rata-rata lama tinggal wisatawan mengalami penurunan dari 1,88 hari pada 2024 menjadi 1,77 hari di 2025. Meski terlihat tipis, penurunan ini dinilai sebagai sinyal melemahnya daya tarik kota bagi wisatawan untuk berlama-lama.
Wakil Ketua DPRD Kota Jogja, Sinarbiyat Nujanat, menilai kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Ia menekankan pentingnya langkah cepat dan strategis agar tren tersebut tidak berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
“Kota Jogja harus menghadirkan ide-ide kreatif. Perlu evaluasi mendalam terkait penyebab menurunnya kunjungan dan lama tinggal wisatawan,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menyoroti berkurangnya penyelenggaraan event seni dan budaya sebagai salah satu faktor utama. Selama ini, kegiatan berbasis budaya menjadi magnet utama wisatawan untuk datang dan bertahan lebih lama di Jogja. Namun, sejak 2025 sejumlah agenda tersebut berkurang akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Menurutnya, dampak dari berkurangnya event ini cukup terasa, terlebih di tengah perubahan tren wisata yang kini mulai bergeser. Wisatawan disebut lebih tertarik mengeksplorasi destinasi berbasis alam di wilayah kabupaten sekitar, yang menawarkan pengalaman berbeda.
“Event seni budaya itu magnet wisata. Ketika banyak yang berkurang, tentu berdampak. Sementara tren wisatawan kini mulai bergeser ke wisata alam,” jelasnya.
Selain faktor event, Sinarbiyat juga menyoroti pengelolaan kampung wisata dan kampung budaya yang dinilai belum optimal. Ia menilai masih banyak kampung wisata yang hanya sebatas label tanpa aktivitas yang mampu menarik kunjungan wisatawan.
“Kampung wisata perlu dipetakan, mana yang berkembang dan mana yang stagnan. Jangan sampai hanya ada nama tanpa kegiatan nyata,” ungkapnya.
Ia menambahkan, minimnya aktivitas ekonomi dan seni budaya di sejumlah kampung wisata membuat kontribusinya terhadap sektor pariwisata belum signifikan. Kondisi ini juga berdampak pada kurangnya manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Untuk itu, DPRD meminta Pemkot Jogja lebih aktif melakukan inventarisasi, pendampingan, hingga intervensi kebijakan yang tepat agar kampung wisata benar-benar hidup dan produktif.
“Pemkot Jogja harus hadir secara konkret agar kampung wisata bisa berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
DPRD berharap evaluasi menyeluruh ini dapat menjadi momentum pembenahan sektor pariwisata di Kota Jogja. Dengan strategi yang lebih adaptif dan inovatif, diharapkan lama tinggal wisatawan dapat kembali meningkat dan memperkuat posisi Jogja sebagai destinasi unggulan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penataan sampah visual di Jogja diminta dilakukan berkelanjutan. Sumbo Tinarbuko meminta penertiban reklame liar tak menunggu aduan warga.
Gelombang panas Inggris memecahkan rekor suhu Juni selama tiga hari berturut-turut. Met Office memperpanjang peringatan cuaca hingga Minggu.
Iran mengecam serangan Amerika Serikat dan menyebutnya melanggar Piagam PBB serta kesepakatan damai yang baru berlaku pada Juni 2026.
Candi Sojiwan dan Wellness Tourism Umbul Brintik masuk nominasi API Award 2026. Masyarakat diajak memberikan dukungan melalui voting.
Realisasi PBB Bantul 2026 telah mencapai Rp33 miliar. BPKPAD mengoptimalkan pembayaran melalui mobil pajak, Virtual Account, dan QRIS.
Pemilih logo HUT RI Ke-81 mencapai 42.151 orang. Pemerintah mengajak masyarakat terus berpartisipasi hingga polling berakhir.