PSIM Jogja Usung Filosofi Keraton ke Fashion Olahraga Global

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Minggu, 07 Juni 2026 10:07 WIB
PSIM  Jogja Usung Filosofi Keraton ke Fashion Olahraga Global

Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno berbicara dalam diskusi Jogja Sport Streetwear Show 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (6/6/2026). Ist/PSIM Jogja

Harianjogja.com, JOGJA—Budaya lokal dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi pengembangan industri fashion olahraga Indonesia. Gagasan tersebut disampaikan Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, yang mendorong pemanfaatan kekayaan budaya Yogyakarta sebagai identitas kuat untuk menembus pasar nasional hingga internasional.

Dalam diskusi Jogja Sport Streetwear Show 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (6/6/2026), Yuliana mengatakan budaya tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga dapat diolah menjadi nilai tambah yang memiliki daya saing ekonomi.

“Gagasan yang saya bawa adalah bagaimana budaya Yogyakarta dapat menjadi masa depan mode olahraga di Indonesia, baik pada tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Menurut perempuan yang akrab disapa Liana itu, konsep tersebut telah mulai diterapkan dalam berbagai produk PSIM. Klub berjuluk Laskar Mataram tersebut mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam identitas visual yang tercermin pada desain jersei dan produk turunannya.

Salah satu sumber inspirasi utama berasal dari filosofi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi elemen desain yang tidak hanya menonjolkan sisi estetika, tetapi juga menyimpan pesan dan makna yang kuat.

“Kami mengadopsi filosofi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, termasuk konsep Hamemayu Hayuning Bawana yang kami implementasikan dalam jersei,” kata Liana.

Penerapan konsep budaya itu terlihat pada jersei edisi juara Liga 2 musim 2024/2025. Dalam desain tersebut, PSIM menghadirkan siluet Pangeran Mangkubumi yang merepresentasikan kepemimpinan, perjuangan, dan kejayaan.

“Kami menggunakan siluet Pangeran Mangkubumi pada jersei edisi juara. Sosok ini memiliki nilai kepemimpinan yang diyakini mampu membawa kita pada kejayaan,” ujarnya.

Liana menilai kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia merupakan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki banyak negara. Pengalaman mengikuti program kepemimpinan perempuan di Amerika Serikat semakin menguatkan keyakinannya bahwa identitas budaya dapat menjadi modal penting untuk membangun merek yang berdaya saing global.

“Saat saya berkunjung ke Amerika Serikat, mereka mengakui tidak memiliki akar budaya yang merata. Sementara kita punya kekayaan budaya luar biasa, khususnya Yogyakarta,” katanya.

Gagasan tersebut juga mulai diterjemahkan dalam strategi bisnis PSIM. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperluas akses pasar dengan menyasar wisatawan mancanegara melalui produk-produk merchandise klub.

Upaya itu diwujudkan dengan membuka PSIM Store di Yogyakarta International Airport (YIA). Keberadaan gerai tersebut diharapkan dapat memperkenalkan identitas PSIM sekaligus budaya Jogja kepada wisatawan yang datang maupun meninggalkan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kami membuka gerai di Bandara YIA agar turis mancanegara bisa membawa pulang produk PSIM sebagai cenderamata,” tutur Liana.

Ia menegaskan budaya seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai warisan yang dipajang di ruang pamer atau museum. Menurutnya, nilai-nilai budaya perlu dihidupkan dan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk industri kreatif dan olahraga.

“Budaya itu seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar disimpan di museum. Ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita semua,” pesannya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online