Dinkes DIY Soroti Potensi Hipertensi dan Diabetes pada Generasi Muda

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Jum'at, 12 Juni 2026 11:27 WIB
Dinkes DIY Soroti Potensi Hipertensi dan Diabetes pada Generasi Muda

Ilustrasi cek kesehatan./freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan Pemerintah Daerah DIY mulai menemukan sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular pada kelompok usia muda. Temuan tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan adanya kecenderungan gangguan kesehatan yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada usia lanjut.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengungkapkan hasil skrining awal dalam program CKG menunjukkan sebagian anak muda telah memiliki potensi hipertensi atau tekanan darah tinggi. Selain itu, kasus kegemukan hingga obesitas juga mulai banyak ditemukan.

“Yang jadi konsen itu usia muda sudah ada potensi hipertensi, kemudian kegemukan atau obesitas, itu yang kemudian bisa mengarah ke diabetes melitus,” ujar Anung, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, hasil yang ditemukan dalam program CKG masih berupa faktor risiko dan belum dapat dikategorikan sebagai diagnosis penyakit. Program tersebut dirancang sebagai skrining awal untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan sehingga masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan lebih dini.

Anung menjelaskan, seseorang yang memiliki kadar gula darah cenderung meningkat belum tentu menderita diabetes melitus. Untuk memastikan diagnosis, diperlukan pemeriksaan lanjutan secara berkala dan tidak cukup hanya melalui satu kali pemeriksaan.

“Kalau dicek gula darahnya cenderung naik, itu belum tentu DM, karena untuk memastikan harus ada pemeriksaan serial, tidak hanya sekali, ini baru screening,” katanya.

Berdasarkan hasil pemantauan sementara, angka potensi risiko penyakit tidak menular pada kelompok usia muda berada pada kisaran belasan hingga 20 persen. Meski belum tergolong tinggi, angka tersebut dinilai cukup menjadi sinyal peringatan agar masyarakat mulai memperhatikan pola hidup sehat sejak dini.

Ia menilai deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit kronis saat memasuki usia dewasa dan lanjut usia. Dengan mengetahui faktor risiko sejak muda, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan perubahan gaya hidup dan mencegah kondisi kesehatan yang lebih serius.

“Dulu manifestasi berat penyakit tidak menular terjadi di usia tua, tapi kalau faktor risikonya terdeteksi sejak muda bisa dikendalikan supaya tidak jatuh sakit saat tua,” ujarnya.

Selain mengungkap temuan kesehatan, Dinas Kesehatan DIY juga mencatat antusiasme masyarakat terhadap program CKG mulai melandai dibandingkan saat awal peluncuran. Meski demikian, layanan tersebut masih dimanfaatkan masyarakat dan terus berjalan di berbagai wilayah.

“Antusiasmenya tidak seperti di awal, sekarang lebih stagnan, tidak semua berbondong-bondong ke Puskesmas, tapi tetap berjalan pelan-pelan,” kata Anung.

Untuk memperluas jangkauan layanan, Dinkes DIY mendorong puskesmas membuka layanan CKG di berbagai kegiatan masyarakat. Langkah ini dilakukan agar warga dapat mengakses pemeriksaan kesehatan dengan lebih mudah tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan.

Anung juga menegaskan bahwa CKG berbeda dengan general medical check-up. Program ini berfokus pada skrining faktor risiko melalui penapisan awal, termasuk pengisian kuesioner kesehatan, sebelum peserta diarahkan menjalani pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Cek kesehatan gratis itu bukan general check up, tapi skrining faktor risiko, jadi tidak semua orang harus diperiksa semuanya, ada penapisan dulu,” ujarnya.

Temuan potensi hipertensi, obesitas, dan risiko diabetes pada kelompok usia muda menjadi pengingat penting bahwa penyakit tidak menular kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Karena itu, upaya pencegahan melalui pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas kesehatan masyarakat di masa mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online