Karya Seni FSMR ISI Jogja Soroti Realitas Sosial di Era AI

Yosef Leon
Yosef Leon Selasa, 23 Juni 2026 03:17 WIB
Karya Seni FSMR ISI Jogja Soroti Realitas Sosial di Era AI

Sejumlah karya yang menyoroti persoalan sosial ditampilkan dalam pameran bertajuk Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence, Senin (22/6/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.

Harianjogja.com, JOGJA—Potret kehidupan masyarakat kecil, mulai dari pemulung yang tertidur di emperan toko hingga wajah kawasan kumuh perkotaan, menjadi bagian dari Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam bertajuk Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence yang digelar di Galeri Pandeng pada 22–26 Juni 2026.

Pameran ini menghadirkan puluhan karya dari berbagai program studi di Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang terdiri atas 18 karya Program Studi Film dan Televisi, 88 karya Fotografi, tujuh karya Produksi Film dan Televisi, serta 38 karya Animasi.

Kurator pameran, Troy, menjelaskan bahwa karya-karya yang dipamerkan tidak semata menonjolkan aspek estetika visual, tetapi juga berfungsi sebagai medium untuk merekam pengalaman manusia dalam berbagai konteks sosial, budaya, hingga perubahan lingkungan.

“Karya-karya yang dipilih merekam dinamika masyarakat, relasi sosial, identitas budaya, perubahan lingkungan, dan beragam cara manusia beradaptasi dengan teknologi,” ujarnya, Senin (22/6/2026).

Sejumlah karya juga menyoroti kelompok rentan melalui medium animasi, seperti Daily Death dan Nusantara Harvest Tap yang merefleksikan kebijakan negara serta perjuangan ekonomi masyarakat kecil.

Sementara itu, karya Through the Garden mengajak pengunjung melihat dunia dari perspektif makhluk rentan di tengah kerusakan ekosistem yang terus terjadi.

Karya lain berjudul Fotomene menyoroti persoalan penyebaran citra tanpa persetujuan yang semakin marak di ruang digital, sekaligus menjadi pengingat pentingnya etika dalam penggunaan teknologi.

Dekan FSMR ISI Jogja, Edial Rusli, mengatakan tema Narrating Humanity dipilih sebagai respons atas pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang kini turut memengaruhi proses kreatif di dunia seni.

Menurutnya, teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan tantangan yang dapat mendorong lahirnya kreativitas baru tanpa meninggalkan nilai dasar artistik manusia.

“Kita tidak hanya bicara Artificial Intelligence, tetapi juga Artistic Intelligence. Semua teknologi harus dipelajari dan dimanfaatkan sebagai alat untuk mempercepat proses kreatif tanpa meninggalkan pondasi artistik yang dimiliki manusia,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi yang semakin cepat justru menegaskan pentingnya menjadikan manusia sebagai pusat dalam proses berkesenian, sehingga seni tetap berfungsi sebagai sarana membaca realitas sosial sekaligus menumbuhkan empati di tengah perubahan zaman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online