Pecah Sunyi Hadir di Kembaran, Seni Rupa Dekatkan Seniman dan Warga

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Senin, 29 Juni 2026 10:37 WIB
Pecah Sunyi Hadir di Kembaran, Seni Rupa Dekatkan Seniman dan Warga

Pameran Pecah Sunyi di Dusun Kembaran, Bantul, menghadirkan seni rupa ke tengah warga sekaligus membuka ruang edukasi dan dialog budaya di desa. /Harian Jogja-Stefani Yulindriani.

Harianjogja.com, BANTUL— Pameran Keliling dari Desa ke Desa bertajuk Pecah Sunyi menghadirkan pengalaman berbeda bagi warga Dusun Kembaran, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Bantul. Melalui konsep galeri keliling, karya seni rupa tidak lagi hanya dinikmati di ruang pamer eksklusif, melainkan hadir di tengah masyarakat sebagai ruang dialog, edukasi, dan perjumpaan antara seniman dengan warga.

Pameran yang berlangsung di gedung pertemuan Dusun Kembaran RT 01 pada Jumat (26/6/2026) itu mempertemukan karya-karya seni dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Suasana sederhana tanpa sekat galeri justru menghadirkan percakapan yang hangat, rasa ingin tahu, serta harapan agar seni semakin dekat dengan kehidupan warga desa.

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung merupakan instalasi milik seniman sekaligus warga Kembaran, Giring Prihatyasono. Ia menampilkan sosok Garuda berbahan aluminium yang dipasang dalam posisi miring dengan bagian kepala tampak terluka. Di bagian bawah karya tersebut tersusun buah-buahan, rempah-rempah, hingga rokok yang disusun menyerupai sesaji.

Bagi Giring, setiap elemen dalam karya itu memiliki makna sebagai refleksi terhadap kondisi bangsa. Melalui visual tersebut, ia ingin mengajak masyarakat merenungkan kekayaan Indonesia yang melimpah sekaligus mempertanyakan berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa.

"Ini menggambarkan kondisi bangsa kita sekarang. Garuda saya tampilkan miring dengan kepala terluka untuk menggambarkan kondisi bangsa saat ini. Di bawahnya ada sesaji berupa buah-buahan, rempah-rempah, sampai rokok. Bangsa kita sebenarnya kaya, tetapi kenapa kondisinya bisa seperti sekarang? Itu yang ingin saya ungkapkan lewat karya ini," tuturnya.

Karya tersebut diselesaikan dalam waktu lebih dari satu bulan menggunakan material aluminium dengan teknik etsa, medium yang telah ia tekuni sejak 2014. Menurut Giring, perkembangan teknologi mempermudah proses produksi karya. Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada bagaimana menerjemahkan kegelisahan batin menjadi bahasa visual yang dapat dipahami publik.

"Saya tidak terlalu memikirkan filosofi secara rumit. Apa yang saya rasakan biasanya akan muncul sendiri menjadi ide yang mewakili kegelisahan saya," katanya.

Melalui karya tersebut, Giring berharap masyarakat bersedia meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, mengamati, kemudian merefleksikan kondisi bangsa sekaligus menyadari pentingnya peran setiap individu dalam membawa perubahan.

"Minimal orang berpikir [tentang kondisi Indonesia], lalu muncul kesadaran bahwa kita juga harus ikut mengambil bagian [dalam perbaikan kondisi bangsa]," ujarnya.

Pameran Pecah Sunyi juga menjadi momentum penting bagi perkembangan seni di Dusun Kembaran. Dukuh Kembaran, Darsono, mengatakan wilayahnya memiliki sejarah panjang sebagai kampung yang melahirkan banyak pelaku seni tradisional, mulai dari seni tari hingga ketoprak. Namun, regenerasi sempat terhenti selama puluhan tahun.

Kini, geliat tersebut mulai bangkit kembali. Generasi muda di Kembaran mulai aktif berkarya sebagai pelukis, perupa, perajin kriya, hingga pelaku seni pertunjukan. Menurut Darsono, pameran ini menjadi wadah yang selama ini dinantikan agar para seniman lokal dapat berkumpul, berkolaborasi, sekaligus menunjukkan hasil karyanya kepada masyarakat.

"Ini menjadi tonggak pertama bagi warga kami untuk mempunyai wadah mengekspresikan karya mereka. Dulu mereka berkarya sendiri-sendiri. Sekarang warga ikut menjadi panitia, penyelenggara, bahkan memamerkan karya mereka sendiri," ujarnya.

Ia berharap semangat berkesenian tersebut terus berkembang hingga Kembaran memiliki identitas baru sebagai Kampung Seni yang dikenal luas.

"Kalau ada Kampung Anggur atau Kampung Inggris, harapan kami nanti Kembaran dikenal sebagai Kampung Seni," katanya.

Gagasan menghadirkan pameran keliling ini digagas Hendra Priyadhani. Menurutnya, banyak masyarakat desa yang hanya mendengar adanya pameran seni di pusat Kota Yogyakarta tanpa pernah benar-benar merasakan suasana maupun pengalaman yang ditawarkan.

"Orang-orang di desa sering hanya mendengar ada pameran, tetapi tidak pernah benar-benar merasakan atmosfernya. Saya ingin mereka ikut merasakan kegembiraan itu," ujarnya.

Hendra memilih Dusun Kembaran sebagai lokasi pertama karena memiliki ikatan emosional dengan wilayah tersebut. Sekitar dua dekade lalu, ia pernah menggelar kegiatan serupa di desa itu dan kini ingin kembali menghidupkan ruang seni sebelum memperluas program ke desa-desa lainnya.

Dalam pameran tersebut, tujuh dari sepuluh peserta merupakan warga sekitar. Sebagian besar merupakan seniman muda yang telah memiliki kemampuan teknis, tetapi masih menghadapi keterbatasan jaringan dan akses informasi mengenai dunia seni profesional.

Menurut Hendra, persoalan utama yang dihadapi para seniman muda bukan terletak pada kualitas karya, melainkan minimnya informasi mengenai residensi, penyusunan portofolio, hingga peluang mengikuti pameran di berbagai galeri maupun ajang internasional.

"Banyak yang bertanya bagaimana cara ikut residensi, bagaimana mengirim karya ke galeri, bagaimana membuat portofolio. Hal-hal seperti itu sebenarnya sederhana, tetapi sangat penting bagi perjalanan seorang seniman," katanya.

Selama proses pemasangan hingga pelaksanaan pameran, diskusi berlangsung secara informal. Berbagai topik, mulai dari teknik penataan karya hingga peluang berkarya di tingkat internasional, mengalir secara alami. Menurut Hendra, pendekatan semacam itu menjadi bentuk edukasi seni yang lebih efektif karena peserta dapat belajar langsung melalui pengalaman dan interaksi.

"Edukasi visual jauh lebih efektif daripada teori. Ketika mereka melihat langsung karya, bertemu seniman, lalu berdialog, di situlah proses belajar terjadi," ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan kurator Deni Rahman. Ia menilai kehidupan seni rupa di Yogyakarta berkembang sangat dinamis, tetapi pemerataan pengalaman budaya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di desa-desa sekitar kota.

Melalui konsep galeri keliling, Pecah Sunyi berupaya membawa seni keluar dari ruang-ruang yang selama ini dianggap eksklusif dengan memanfaatkan balai desa, pendopo, lapangan, hingga ruang komunitas sebagai tempat bertemunya karya, seniman, dan masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online