Dari Bantul ke Eropa, Apri Kusbiantoro Wujudkan Mimpi Jadi Komikus

Kiki Luqman
Kiki Luqman Senin, 08 Juni 2026 06:57 WIB
Dari Bantul ke Eropa, Apri Kusbiantoro Wujudkan Mimpi Jadi Komikus

Apri saat ditemui di rumahnya pada Jumat (5/6). Kiki Luqman

Harianjogja.com, BANTUL—Tak banyak yang menyangka ruang kerja sederhana di sebuah rumah di Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Bantul, menjadi tempat lahirnya ilustrasi dan komik yang beredar hingga Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan sejumlah negara Eropa. Dari ruangan kecil itulah komikus asal Lombok, Apri Kusbiantoro, menorehkan namanya di industri komik internasional.

Di sudut rumahnya terpajang berbagai sampul komik dan ilustrasi karakter yang pernah diterbitkan di luar negeri. Semua menjadi saksi perjalanan panjang pria berusia 50 tahun tersebut dalam menembus pasar komik dunia dari Bantul.

Apri, yang telah lama menetap di Bantul, mengaku masih menjalani rutinitas layaknya kepala keluarga pada umumnya. Aktivitas menggambar dilakukan di sela-sela mengurus keluarga dan mengantar anak.

“Kan saya juga bapak rumah tangga ya. Jadi sambil nganter anak dan lain-lain. Dalam sehari mungkin saya menyentuh meja gambar itu tiga sampai empat jam,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).

Hobi Menggambar yang Sempat Membuat Orang Tua Kesal

Jauh sebelum dikenal sebagai komikus internasional, Apri merupakan anak yang lebih senang menggambar dibandingkan mencatat pelajaran di sekolah. Buku tulisnya dipenuhi sketsa karakter komik favorit, kondisi yang kerap membuat orang tuanya mengelus dada.

“Saya bukan anak kecil yang membanggakan orang tua dari segi akademis. Buku tulis saya itu lebih banyak gambarnya dibanding catatannya,” katanya sambil tertawa.

Masa kecilnya tak lepas dari berbagai komik Amerika dan Eropa yang dibaca secara rutin. Tokoh-tokoh seperti Batman, Superman, Hulk, Captain America, Storm, hingga Tintin menjadi bagian dari kesehariannya. Sebagian besar koleksi itu berasal dari sang kakak yang gemar membeli maupun menyewa komik.

Pada era tersebut, membaca komik belum dipandang sebagai aktivitas yang membanggakan. Banyak orang tua menganggap komik dapat mengganggu prestasi belajar anak.

“Era itu kebanyakan orang tua menganggap komik bukan bacaan bermutu. Jadi sebaiknya dihindari,” kenangnya.

Komik Pertama Terbit Saat Kuliah

Kegemarannya membaca komik perlahan berkembang menjadi keinginan menciptakan cerita sendiri. Saat menempuh pendidikan di Jurusan Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta pada 1994, Apri berhasil menyelesaikan komik pertamanya berjudul Bunglon.

Komik setebal sekitar 36 halaman tersebut mengisahkan seorang superhero yang mampu mengubah warna tubuh melalui kostum berbahan termokromik. Inspirasi cerita berasal dari mainan mobil milik temannya saat SMP yang bisa berubah warna.

Karya itu kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1995. Meski menjadi tonggak awal kariernya, Apri mengaku kini justru merasa malu saat melihat hasil gambar pertamanya.

“Kalau saya lihat sekarang, saya malu. Tapi kolektor-kolektor komik justru senang sekali dan bangga menunjukkan komik itu ke saya,” katanya.

Industri Komik Lesu, Beralih Menjadi Animator

Karier komiknya sempat tersendat ketika industri komik Indonesia mengalami penurunan pada akhir 1990-an. Saat itu komik lokal kalah bersaing dengan gelombang komik Jepang yang mendominasi pasar.

Situasi tersebut membuat Apri memilih bekerja sebagai desainer grafis dan animator di berbagai proyek periklanan. Pekerjaan tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi tidak memberikan kepuasan pribadi seperti ketika membuat komik.

“Saya merasa itu kurang personal. Ketika saya bilang ke ibu kalau iklan di televisi itu hasil karya saya, ibu malah bilang, ‘Gimana aku tahu kalau itu bikinanmu?’,” kenangnya.

Ucapan sang ibu menjadi titik balik yang mendorongnya kembali mengejar mimpi sebagai komikus.

Empat Tahun Mencari Peluang di Amerika

Pada 2007, Apri mulai memanfaatkan internet untuk mencari jalan masuk ke industri komik Amerika. Ia menemukan forum Digital Webbing yang mempertemukan penulis dan ilustrator dari berbagai negara.

Dengan portofolio sederhana, ia mengirimkan contoh karya ke berbagai pihak. Namun, hasil yang diharapkan tak kunjung datang selama empat tahun.

Kesempatan akhirnya muncul pada 2011 ketika seorang penulis Amerika menawarkan proyek ilustrasi untuk komik milik kelompok komedian legendaris Three Stooges.

“Dari 2007 saya browsing, baru 2011 dapat proyek,” ujarnya.

Proyek tersebut menjadi gerbang yang memperkenalkan nama Apri ke sejumlah penerbit komik di Amerika Serikat.

Dari Penggemar Storm Menjadi Ilustrator Resminya

Perjalanan Apri kemudian membawanya ke Eropa. Sebagai penggemar berat serial komik Storm sejak kecil, ia kerap menggambar karakter-karakter favoritnya dan mengunggahnya ke internet.

Tanpa diduga, karya-karya tersebut menarik perhatian seorang kolektor dari Belanda yang kemudian memperkenalkannya kepada penulis komik setempat.

Kolaborasi tersebut menghasilkan komik De Verloren Verhalen van Lemuria yang dikerjakan hampir dua tahun. Saat terbit pada 2014, Apri mendapat undangan ke Belanda untuk menghadiri peluncuran sekaligus sesi tanda tangan bersama pembaca.

“Aku yang masih anak bawang tiba-tiba seperti jadi superstar di sana,” kenangnya.

Antrean panjang pembaca yang ingin bertemu dan meminta tanda tangan menjadi pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sambutan hangat itu membuka peluang baru hingga namanya semakin dikenal di dunia komik Eropa.

Berbagai proyek kemudian mengantarkannya melakukan tur promosi ke Belanda, Belgia, dan Jerman.

Mimpi Masa Kecil yang Menjadi Nyata

Puncak perjalanan Apri datang ketika penerbit Storm menawarkan kesempatan menjadi ilustrator resmi serial komik yang selama ini hanya bisa ia kagumi sebagai pembaca.

“Pernah ada masa ketika saya berani bermimpi menjadi ilustrator Storm. Dan ternyata mimpi itu tercapai,” katanya.

Kini, dari ruang kerja kecil di rumahnya di Bantul, Apri terus menghasilkan karya untuk pasar internasional. Salah satu proyek yang paling membanggakan baginya adalah komik Elang Jawa yang mengangkat latar dan cerita dari Indonesia.

Melalui karya tersebut, Apri akhirnya dapat membawa kisah dari tanah air ke hadapan pembaca Eropa setelah bertahun-tahun menggarap karakter dan cerita dari luar negeri.

“Ini proyek kebanggaan saya karena komik Indonesia,” ujar Apri yang saat ini juga tengah mempersiapkan karya baru untuk tur Eropa di tiga negara pada bulan ini.

Perjalanan Apri Kusbiantoro menjadi komikus internasional membuktikan bahwa kebiasaan menggambar yang dahulu memenuhi buku pelajarannya justru menjadi jalan yang membawanya menembus industri komik dunia. Dari Bantul, karya-karyanya kini terus menjangkau pembaca di berbagai negara dan membuka ruang lebih luas bagi cerita-cerita Indonesia untuk dikenal di panggung internasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online