DBD di Gunungkidul Turun saat Kemarau, Warga Tetap Diminta Siaga

David Kurniawan
David Kurniawan Selasa, 30 Juni 2026 14:17 WIB
DBD di Gunungkidul Turun saat Kemarau, Warga Tetap Diminta Siaga

Nyamuk - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Tren kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penurunan signifikan seiring masuknya musim kemarau. Namun, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena potensi penularan penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti tersebut belum sepenuhnya hilang.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Gunungkidul, hingga akhir Juni 2026 tercatat sebanyak 163 warga terjangkit DBD. Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan kasus kematian akibat penyakit tersebut, sehingga kondisi masih dinilai terkendali.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyampaikan harapan agar tren penurunan ini dapat terus berlanjut dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa. Ia menegaskan bahwa pengendalian kasus masih menjadi prioritas utama pihaknya di tengah perubahan musim.

“Mudah-mudahan bisa terus terkendali penyebarannya dan tidak sampai menimbulkan korban jiwa,” kata Ismono saat dihubungi, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, DBD merupakan penyakit yang bersifat musiman dan sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Saat musim hujan, kasus biasanya meningkat karena banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk, sementara pada musim kemarau angka kasus cenderung menurun.

Data perkembangan kasus menunjukkan pola yang cukup jelas sepanjang 2026. Pada puncak musim hujan di Januari, tercatat 62 kasus dalam satu bulan. Angka tersebut kemudian menurun pada Februari menjadi 33 kasus, Maret 19 kasus, April 24 kasus, dan Mei sebanyak 22 kasus. Memasuki Juni, tercatat hanya tiga kasus baru yang terkonfirmasi.

Meski demikian, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Wanda Abrar menegaskan bahwa penurunan angka kasus tidak boleh membuat masyarakat lengah. Menurutnya, kasus DBD tetap berpotensi muncul meskipun di musim kemarau.

“Tidak sepenuhnya hilang, meski kasus menurun. Buktinya, saat musim kemarau juga ada warga yang terjangkit DBD, makanya harus tetap diwaspadai,” katanya.

Dinas Kesehatan Gunungkidul terus memperkuat upaya pencegahan melalui sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan melibatkan kader kesehatan di tingkat kalurahan. Edukasi ini difokuskan pada perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko lingkungan.

Selain itu, langkah pemberantasan sarang nyamuk juga terus digencarkan melalui pemantauan jentik secara rutin. Target angka bebas jentik ditetapkan minimal 95 persen untuk menekan potensi penyebaran DBD di wilayah tersebut.

Upaya lain yang didorong adalah metode 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Masyarakat juga dianjurkan memanfaatkan ovitrap secara mandiri, yaitu perangkap telur nyamuk menggunakan wadah air gelap yang diberi media seperti kasa atau kertas saring untuk menarik nyamuk bertelur.

“Cara ini efektif menekan populasi nyamuk pencegah terjadinya DBD,” kata Wanda Abrar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online