108 Posyandu di Bantul Belum Penuhi Standar Layanan Aktif

Yosef Leon
Yosef Leon Rabu, 08 Juli 2026 22:27 WIB
108 Posyandu di Bantul Belum Penuhi Standar Layanan Aktif

Ilustrasi Posyandu – Antara/ Irwansyah Putra

Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul terus mendorong peningkatan kualitas layanan posyandu agar dapat menjangkau seluruh kelompok masyarakat, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Namun hingga 2025, masih terdapat 108 posyandu yang belum memenuhi indikator Posyandu Siklus Hidup yang Aktif.

Jumlah tersebut setara dengan 9,45 persen dari total 1.143 posyandu yang tersebar di Kabupaten Bantul. Sementara itu, sebanyak 1.035 posyandu atau 90,55 persen telah memenuhi standar layanan yang ditetapkan pemerintah.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan (PMPK) Dinkes Bantul, Subarda, mengatakan pemerintah daerah menargetkan seluruh posyandu di Bantul dapat memenuhi indikator Posyandu Siklus Hidup yang Aktif sehingga kualitas layanan kesehatan masyarakat semakin merata.

Menurut dia, terdapat tiga indikator utama yang harus dipenuhi agar posyandu masuk kategori aktif. Pertama, menyelenggarakan kegiatan secara rutin setiap bulan atau minimal delapan kali dalam setahun. Kedua, memberikan pelayanan kepada seluruh kelompok usia dalam siklus kehidupan. Ketiga, memiliki sedikitnya lima kader aktif yang mendukung operasional layanan.

"Masih ada sekitar 9,45 persen posyandu yang belum memenuhi indikator tersebut. Kami terus melakukan pembinaan agar seluruh posyandu bisa mencapai standar sebagai Posyandu Siklus Hidup yang Aktif," kata Subarda, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan sejumlah tantangan masih dihadapi dalam upaya meningkatkan capaian tersebut. Salah satunya berkaitan dengan keterbatasan anggaran untuk mendukung berbagai kegiatan posyandu di lapangan.

Selain itu, sistem informasi yang belum terintegrasi serta belum optimalnya pelaksanaan rekomendasi hasil evaluasi sebelumnya juga menjadi faktor yang memengaruhi pencapaian target.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Dinkes Bantul memperkuat koordinasi lintas sektor dengan melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah. Salah satu mitra utama yang dilibatkan adalah Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMKal) yang menjadi leading sector pengelolaan posyandu.

"Kami juga mendorong sinkronisasi target indikator mulai dari RPJMD ke Renstra hingga RKPD agar pengembangan posyandu dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan," ujar Subarda.

Sementara itu, Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widiyantara, mengatakan sebagian posyandu yang belum memenuhi indikator masih menghadapi kendala pada aspek hari pelayanan, cakupan sasaran layanan, serta ketersediaan kader.

Menurut Agus, salah satu tantangan terbesar berada pada pelayanan kelompok remaja. Berbeda dengan bayi, balita atau lansia yang relatif mudah dijangkau melalui kegiatan rutin, kelompok usia remaja dinilai lebih sulit dikumpulkan dalam satu kegiatan pelayanan kesehatan.

"Siklus hidup itu kan melayani dari bayi, balita, ibu hamil, ibu nifas, dewasa, lansia, dan remaja. Nah, yang kurang itu di remajanya kebanyakan. Karena ya keterbatasan untuk mengumpulkan remaja itu kan susah," jelasnya.

Selain persoalan sasaran layanan, regenerasi kader juga menjadi tantangan tersendiri. Dinkes menilai keterlibatan generasi muda sebagai kader posyandu masih perlu ditingkatkan karena mereka dapat menjadi penghubung yang efektif dalam menjangkau kelompok sebaya.

Agus menambahkan penguatan kapasitas kader akan menjadi salah satu fokus pengembangan posyandu ke depan. Upaya tersebut dilakukan agar pelayanan kesehatan masyarakat semakin aktif hingga tingkat lingkungan terkecil.

"Makanya ke depan kami secara teknis akan memaksimalkan 25 keterampilan dasar Posyandu agar pelayanan kesehatan itu aktif sampai tingkat RT/RW," pungkasnya.

Dengan masih adanya posyandu yang belum memenuhi indikator aktif, Dinkes Bantul menilai pembinaan berkelanjutan menjadi langkah penting untuk memastikan layanan kesehatan dasar dapat diakses seluruh kelompok masyarakat secara merata. Keberhasilan program ini juga diharapkan mampu memperkuat upaya promotif dan preventif kesehatan hingga tingkat kalurahan dan lingkungan warga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online